Teach Me [Bab 9]

Bab 9

“Huh?”, aku terperangah. Kata-kata yang sebelumnya Touya ucapkan memaksaku menatap kedua bola matanya yang dingin. Sedetik kemudian Touya benar-benar mengatakan sesuatu hal yang membuatku mungkin tidak ingin mendengarnya.

“Aku sudah memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai guru lesmu.”

DEG.

Rasanya seketika ribuan kapas telah menyesaki dadaku hingga tenggorokkan. Ingin kumuntahkan kapas-kapas yang menyesakkanku ini sekarang juga, tapi ironis. Bibirku malah terkatup rapat.

Sakit. Baca lebih lanjut

Teach Me [Bab 6]

Bab 6

Jam 5 kurang 5 menit. Hari ini Touya belum juga datang memenuhi jadwal membimbingku. Aku bosan sendirian di rumah. Karena kebetulan, ibu harus menginap selama semalam di rumah sakit karena diminta menunggui bibi Chiya yang baru melahirkan. Ibu tidak bisa mengajakku karena ibu pikir akan mengganggu sekolahku besok. Sementara ayah, sekarang ini sedang sibuk-sibuknya di kampus. Ayah bilang ia akan pulang larut malam. Aku sudah terbiasa,  jika ayah bilang pulang larut malam maka ia setidaknya paling cepat ia pulang jam 11 sampai 12 malam.

TING TONG

Suara bel rumahku berdenting. Aku segera menyimpan remote tvku, lalu langsung membukakan pintu.

CEKLEK.

Seorang cowok berpostur tubuh yang tinggi dan membawa tas ransel kini berdiri di hadapanku. Ya, seseorang yang kupikir akan meliburkan jadwal lesku hari ini.

Sedikit berbeda darinya.. wajahnya sedikit kusut dan mengguratkan garis tanda kelelahan, mungkin karena ia sibuk belakangan ini.

“Maaf aku terlambat..”, ucap Touya. Baca lebih lanjut

Teach Me [Bab 2]

Bab 2

Touya?!

Apa yang dia lakukan di sini? Kenapa ia tiba-tiba ada di sini? Sejak kapan ia berdiri di tempatnya sekarang? Apa Touya menyaksikan acara ‘katakan cinta’ yang berakhir penolakkan tadi?

Apa yang harus kulakukan sekarang? Menyapanya say hi seperti tidak terjadi apa-apa? Benakku penuh pertanyaan dan keheranan. Sementara, yang ada aku dan Touya saling berpandangan.

“Pak Ikeda? Se, sejak kapan kau berdiri di situ?”, satu dari sekian banyak pertanyaan dalam benakku termuntahkan juga.

Touya tidak menjawab, ia masih memandangku.

“Pak Ikeda?”, sapaku memastikan.

“Kau sudah terlalu banyak membuang waktu, ayo pergi! Jangan sampai waktu lesmu terbuang begitu saja.”, ucap Touya dingin lalu memutar tubuhnya pergi.

Baca lebih lanjut