Behind The Snow

Title : Behind The Snow

Author : mumuthlopeepeuekseu a.k. Muthi YS

Genre : Romance, Drama, Angst, Sad

Length : 2 shots

Rating : PG-15 (a bit profanity)

Cast : Krystal, Minho, Sulli, Siwon

Disclaimer : Cerita ini milik dan hasil ngayal saya, castnya milik Tuhan

~~

Krystal POV

I can’t believe it…I can’t believe it… I don’t believe it! I am just dreaming!

Berulang-ulang berusaha kuteriakkan kalimat itu dalam benakku. Tapi dinginnya kepingan salju yang terus menghujani tubuhku membuatku tersadar. Aku tak bisa membantah apa yang kulihat sekarang ini.

Aku berdiri terpaku di depan beningnya kaca sebuah jewelry store. Aku sama sekali tidak berminat dengan perhiasan yang tertata cantik di etalase toko. Pandanganku tak dapat lepas dari dua orang pengunjung yang berdiri 10 meter agak membelakangiku.

Seorang pria jangkung mengenakan coat hitam dengan mata yang bulat. Backpack Adidas miliknya yang khas menggantung di bahu kanan pria itu. Dan di sebelahnya, seorang gadis berambut hitam panjang sepunggung dengan poni pagar merintangi hingga bawah alisnya. Long blazer berwarna caramel menutupi sebagian besar kulitnya yang seputih susu.

Nampak pria dengan coat hitam itu memutar tubuhnya lalu memasangkan sebuah cincin yang cantik di jari manis gadis di hadapannya. Senyum menawan khas gadis itu nampak terkembang di bibirnya. Tak lama pria itu mengambil sebuah cincin lagi lalu ikut memasangkan cincin itu di jari kelingkingnya. Tawa mesra mereka pecah di dalam sana. Terlihat begitu bahagia, ya.. begitu bahagianya hingga tak menyadari aku tengah memandangi mereka dari kejauhan.

Don’t believe it.. This is just a dream..

Kurogoh saku jas musim dinginku untuk mendapatkan sebuah ponsel touch berwarna putih. Lalu kuhubungi seseorang yang kunamai ‘My Dear’ di kontak ponselku.

Ttuuuuuut… Ttuuuutt..

Tawa kedua orang itu terhenti. Si pria seperti terusik dengan sesuatu yang ada di sakunya. Kemudian ia mengeluarkan sebuah ponsel hitam dan meletakkannya ke telinga kanannya.

“Ya, Krystal?”, sahut pria yang ada di seberang sana.

Aku tertegun dengan apa yang kulihat. Lidahku mendadak terasa kelu.

“Krystal? Kau dengar aku?”, tanya pria itu terdengar meminta respon.

“Ehm, ya.”, akhirnya aku dapat menjawabnya.

“Ada apa?”, tanyanya lagi.

“Ehm..”, aku berusaha mengendalikan nada bicaraku. “Nothing. Aku hanya merindukan suaramu. Kau sedang apa?”, ucapku basa basi.

“Aku…”

“Sedang menyelesaikan tugas laporan kuliahku di rumah Kibum.”, jawabnya.

Cih. Dia berbohong.

“Oh, sepertinya kau sibuk. Kalau begitu lain kali kuhubungi lagi. Bye!”, ucapku dan segera memutus percakapan kami. Rasa gemetar ini mulai menguasai tubuhku.

This is just a dream!

Tekanku sekali lagi dalam hati, lalu menyeret leather bootsku untuk segera pergi jauh dari tempat itu. Perasaanku berkecamuk hebat, aku tak dapat mengontrol langkahku dengan benar.

BRUGH!

Aku terjatuh di jalanan yang beku dan menghasilkan suara yang cukup menyakitkan.. Dinginnya permukaan aspal jalanan terasa menembus tulangku. Rasanya begitu linu dan menusuk. Semuanya terasa sakit… Ditambah snowfalls ini,  lebih terasa seperti ribuan jarum yang menghujamku..

Fuck! It’s real. Krystal, you aren’t dreaming! He is like your fucking father!

Terbayang kembali ingatan kelam yang berusaha kukubur selama bertahun-tahun. Seraut wajah brengsek itu tersenyum meninggalkan aku dan mama. Dan memilih sebuah kehidupan baru dengan perempuan jalang yang menjadi pasangan affairnya.

Air mataku mengalir deras mengingat luka yang begitu menyakitkan itu.

Damn.

Haruskah aku mengalaminya lagi?

~*~

4.00 p.m, Villa Keluarga Choi

Buram.

Tanganku menyapu embun yang melapisi kaca jendela villa ini. Suhu yang rendah membuat kaca ini berembun sepanjang hari. Mungkin percuma saja kusapu embun ini, beberapa menit ke depan ia akan kembali dan membuat kacanya tetap buram.

Sama sepertiku. Beberapa hari telah berlalu sejak pemandangan hari itu, tapi semuanya masih terus melapisi ingatanku. Dan aku belum melakukan apapun, semuanya masih terlihat normal. Bukan aku berniat untuk melupakannya, tapi hanya menunggu waktu yang tepat. Waktu yang tepat ketika aku ingin membuncahkan semua sakit yang kupendam.

Today..

Dua puluh sembilan Januari, hari inilah yang kutunggu. Tepat 3 tahun yang lalu, hubunganku dengan pria itu dimulai. Kurasa hari yang tepat juga untukku mengakhirinya, sebelum aku berakhir menderita seperti mama.

Aku bercermin sejenak pada kaca yang sedikit buram itu. Bayanganku memang tak terpantul jelas, tapi setidaknya aku masih melihat sosokku di dalamnya. Ya, seorang gadis berambut panjang kecokelatan. Matanya menatap dalam dirinya sendiri. Tubuhnya yang kurus terlihat manis dengan balutan white dress favoritnya.

I think it’s not bad.

Tiba-tiba bayangan seorang pria berkemeja biru pudar nampak ikut terpantul dalam kaca. Membuatku menoleh ke belakang. Pria itu berjalan mendekat sambil menyodorkan salah satu dari dua mug berisi cokelat panas yang ia bawa. Kemudian ia berdiri di sebelahku dan ikut memandangi hutan bersalju di balik kaca jendela kamar ini.

“Thanks, Mr. Choi.”, ucapku sambil menerima cokelat panas yang ia berikan. Hangatnya mug itu langsung masuk ke dalam pori-pori tanganku.

Pria yang kusebut Mr. Choi itu tersenyum. “You’re welcome.”, balasnya ramah.

“Kenapa kau memanggilku seperti itu?”, tanya pria itu beberapa detik kemudian. Entah karena heran atau tidak terima kupanggil seperti itu.

Aku tak menjawabnya dan sibuk meminum cokelat panasku perlahan.

Melihatku yang tak merespon pertanyaannya, membuat pria itu terlihat heran. Mungkin sedikit penasaaran, ia kembali bertanya hal lain, “Kenapa kau tiba-tiba ingin merayakan anniversary hubungan kita di villa ini?”

“Kau keberatan?”, ucapku yang terdengar bukan sebuah jawaban.

Ia mengernyitkan alisnya. “Sama sekali tidak.”

“Berarti tak jadi masalah kan?”, ucapku dingin.

Pria itu akhirnya hanya bisa terdiam. Begitupun aku. Mungkin aku yang sengaja membuat keadaan menjadi hening. Menikmati pemandangan membosankan ini sambil meresapi hangatnya cokelat panas.

“Belakangan ini sikapmu terlihat agak dingin.”, ucap pria di sebelahku memecah kebisuan.“Sebaiknya kita ke ruang tengah, di sana akan lebih hangat.”, usul pria itu kemudian. Nadanya tak seramah saat ia datang membawa cokelat panas.

Aku tak bergeming, hingga akhirnya pria itu memutuskan berbalik untuk keluar dari kamar ini. Ia berniat meninggalkanku.

“Choi Minho!”, panggilku membuat langkah pria jangkung itu terhenti di ambang pintu. Sebelum ia sempat menoleh, aku berlari dan memeluk perutnya dari belakang.

“Jika aku bersikap seperti ini terus, apa kau akan meninggalkanku?”, tanyaku dengan nada lirih.

Ia melepaskan tanganku dari perutnya kemudian berbalik. “Aku tidak akan dengan mudah meninggalkanmu. Tidak, mana mungkin aku meninggalkanmu. Apalagi hanya karena hal seperti itu. Maaf, tadi aku hanya sedikit kesal.”, tuturnya sambil memegang sebelah pipiku.

“Benarkah?”, tanyaku dan menatapnya ragu.

Segurat senyum lembut nampak di wajahnya yang tergolong mungil. “Tentu saja.”, ucapnya meyakinkanku lalu mengacak rambutku pelan.

Ia lalu membawaku duduk di sofa berwarna cokelat kayu yang ada di ruang tengah villa. Sementara pria bernama Choi Minho itu menyalakan tungku perapian untuk sedikit mengusir hawa dingin. Tak lama, ia kembali dan duduk di sebelahku. Kumanfaatkan bahunya untuk menyandarkan kepalaku dengan nyaman. Ia meraih tanganku lalu menggenggamnya hangat. Aku terbawa suasana. Pria ini selalu bisa membuatku nyaman di sisinya. Aku sangat ingin membenci kenyataan ini.

Percuma.. rasa nyaman ini hanya kamuflase semata. Dia tetap mengkhianatiku. Kebohongan yang menyakitkan itu lebih terasa nyata. He is like my fucking father.

End of the show, Krys!

“Kau bilang tidak akan dengan mudah meninggalkanku. Apa itu alasanmu memilih sikap seperti my fucking father?”, ucapku tiba-tiba dengan nada sinis. Si pemilik bahu terlihat kaget dengan kata-kata yang keluar dari mulutku.

Aku segera menegakkan kepalaku dan menatap tajam pria di sebelahku.

“Kau menunggu disaat kau sudah merasa bosan mempermainkanku. Baru kau akan merasa mudah untuk meninggalkanku? Kemudian akhirnya kau akan memilih pergi dengan gadis itu. Seperti itukah?”

“Krystal?! Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?”, ucapnya dengan nada yang naik. Kata-kataku barusan memang mudah memercikkan keributan.

“Aku melihatmu begitu akrab dengan Choi Sulli beberapa hari yang lalu. Kalian berbagi cincin manis di jewelry store sekitar Myeongdong!”, ungkapku dengan nada ditekan.

“Lalu?”, ucap Minho ringan. Ekspresinya yang terkejut perlahan hilang.

Tanganku telah terkepal keras menahan amarah yang sepertinya akan membuncah.

“Kau cemburu? Dan langsung menuduhku seperti ayahmu?”, terkanya.

“Brengsek! Menuduh hah?! Lalu apa maksudmu menyelesaikan tugas laporan kuliah di rumah Kibum? Apa rumah Kibum sebuah jewelry store? You’re a liar!”, bentakku kasar. Ya, bom waktu yang kupendam berhari-hari rasanya tengah meledak hebat di dadaku. Aku semakin tak dapat mengontrol semua kata-kata yang keluar dari mulutku.

“Shit!”, desis pria di hadapanku sambil membuang wajahnya. Ia terlihat begitu kesal dan ingin marah. Namun seperti ada sesuatu yang menahannya.

“Kenapa? Kau tak bisa mengelak hah?”, ucapku menghakiminya.

Choi Minho itu malah menujukan tatapan dingin padaku dan mengatakan hal yang membuatku semakin muak melihat wajahnya, “Mengelak? Tak ada hal yang harus membuatku mengelak. Apapun yang akan aku katakan padamu sekarang, hanya akan kau anggap sebagai pembelaan diri.”

Bekuan air mataku meleleh.

“Fuck!”, umpatku lalu beranjak pergi dari tempat itu. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menuju pintu keluar villa.

“Krystal!”, panggil si brengsek itu begitu menyadari aku keluar villa.

Dia terus memanggil dan memintaku kembali ke dalam villa, tapi aku sama sekali tidak menghiraukannya. Mendengar suaranya yang terus memanggil namaku, hanya membuatku semakin ingin pergi jauh. Emosi yang memuncak, mengendalikan kakiku liar melangkah tanpa arah ke dalam hutan. Membiarkan tubuh kurusku yang hanya berbalut white dress selutut, didekap snowfalls. Tak peduli kabut yang menghalangi pandanganku atau jalanan tak menentu di dalam sana. Aku hanya ingin pergi!

Blugh!

Damn. Tubuhku terjatuh lagi, seperti saat aku berusaha pergi dari jewelry store itu. Tak ada yang bisa kulakukan saat ini, selain terisak dan meratapi kemalanganku. Aku lelah, dan kupikir aku juga sudah cukup jauh dari villa. Terlihat dari pohon-pohon menjulang yang mengelilingiku, hingga aku tak dapat mengenali lagi tempatku berada.

“Krystal..”, panggil seorang pria terdengar lirih dari belakangku.

Cih. Dia masih menemukanku!

Aku langsung berusaha bangkit kembali dan siap melangkahkan kakiku lebih jauh lagi. Namun aku kalah cepat, pria yang sama sekali tidak ingin kulihat itu keburu menahanku. Ia memakaikanku mantel dengan mendekapku dari belakang.

“Shit! Lepaskan aku, brengsek!”, bentakku kasar sambil meronta-ronta.

Pria itu malah semakin kuat mendekapku. “Tidak!”, ucapnya dengan nada yang tinggi.

Aku terus berontak dan berusaha melepaskan diri. Tapi tetap saja aku jelas kalah, tenaga pria ini berkali-kali lipat lebih kuat.

“Kumohon diamlah sebentar.. atau kau cukup bersikap dingin padaku seperti tadi. Jika kau terus seperti ini, hanya akan membuatku semakin tak akan melepaskanmu.”, mohon pria itu nada melemah.

“Apa kau sedang mengancamku?!”, tanyaku sinis.

“Kumohon..”, ucapnya tidak menghiraukan pertanyaanku, malah kembali memohon dengan nada yang lebih mengiba.

Terpaksa aku menyerah dan mengikuti apa katanya. Lagi pula aku benar-benar tidak bisa melepaskan dekapannya yang begitu erat. Ya, aku terlalu bodoh dan lemah. Lagi-lagi aku terbawa suasana, tak sadar aku merasa nyaman dengan dekapannya yang hangat. Dekapannya berhasil mengusir dingin yang sempat membuatku menggigil.

“Maafkan aku.. maafkan aku membuatmu salah paham. Maafkan aku waktu itu berbohong padamu. Aku tak bermaksud membuatmu terluka seperti ini. Sulli, saat itu aku tak sengaja bertemu dengannya di Myeongdong, kemudian aku memang mengajaknya ke jewelry store yang kau lihat…”, tuturnya.

“That sound is great!”, cibirku sinis.

“Aku meminta bantuannya untuk memilih sesuatu.”, lanjutnya tanpa merespon kata-kataku. Dengan posisi masih setengah mendekapku, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru muda dengan hiasan bentuk snowflake dari saku jasnya. Kemudian dia menyodorkan kotak itu padaku. “Bukalah..”, suruhnya.

Aku terdiam sejenak memandangi kotak yang ia sodorkan. Namun akhirnya aku menerima kotak itu lalu membukanya. Dan aku tercengang dengan apa yang kulihat dalam kotak itu. Sebuah cincin emas putih yang cantik dengan beberapa butiran permata dibentuk begitu manis. Cincin itu membelenggu sebuah gulungan kertas kecil. Lalu aku refleks menarik kertas itu kemudian membaca isinya.

Happy anniversary, my Krystal!

Aku ingin kau selalu memakai cincin ini sampai suatu hari kau siap melepasnya untuk kuganti dengan cincin yang lebih cantik dan mahal di hari pernikahan kita nanti.. I love you, Krystal

Is yours, Choi Minho

Rasa benci itu sirna seketika. Bahagia menyeruak di hatiku.

“Kuharap kau suka karena..”, ucap si jangkung terputus karena aku langsung berbalik dan memeluknya erat. “Karena pada akhirnya aku menyia-nyiakan bantuan Sulli dan memilih cincin ini sendiri…”, lanjutnya sambil membalas pelukanku. Keadaan kami mencair.

“Dasar bodoh..”, ucapku kesal.

Pria itu mencium puncak kepalaku. “Sekali lagi maafkan aku..”

Aku merenggangkan pelukanku lalu menyodorkan kembali kotak kecil itu. “Pasangkan!”, pintaku sambil tersenyum.

Pria di hadapanku ikut tersenyum. Tangannya meraih tangan kiriku lalu memasangkan cincin itu di jari manisku.

“Ukurannya sama dengan jari kelingkingku.”, ucapnya.

Beberapa saat kami terdiam dan saling memandang. Kupandangi setiap bagian wajahnya, rambut kecokelatannya tertimpa butiran salju, matanya yang bulat, bentuk wajahnya yang mungil, dan bibirnya yang terutas senyum hangat padaku. Wajah yang menurutku sempat memuakkan, terlihat begitu tampan sekarang. Pengaruh pengalaman menyakitkan yang ditorehkan ayahku, hampir membuatku kehilangan pria ini. Sungguh, aku tidak tau akan seberapa besar menyesal jika aku kehilangannya…

“Thanks a lot.. And I love you.. Really love you..”, ucapku tulus.

“Me too. But I love you more..”, balasnya sambil menggenggam kedua tanganku. “Sekarang, kita kembali ke villa.”, ajaknya kemudian.

Aku  mengangguk setuju dan mengikuti langkahnya untuk kembali ke villa. Saat menyusuri jalan pulang, aku baru menyadari bahwa jalan yang kulalui di hutan ini cukup berbahaya. Banyak lereng gunung yang curam, hingga harus hati-hati saat melaluinya. Ditambah salju yang tidak begitu tebal tapi licin ini sangat mudah membuat orang yang melaluinya jatuh jika tidak hati-hati. Aku mulai takut dan sedikit tak habis pikir. Bagaimana bisa aku berlari melaluinya hingga sejauh ini?

Sial. Kakiku sakit dan mati rasa. Dinginnya butiran-butiran salju itu leluasa mengcengkram kakiku yang hanya memakai sandal dalam rumah. Perlahan langkahku semakin tertatih.

Pria berjas besar warna navy itu menghentikan langkahnya. Ia berbalik kemudian melihat ke kakiku. Sepertinya ia menyadari langkahku yang tak normal.

“Seharusnya aku membawakan sepatumu juga.”, ucapnya terdengar menyesal.

“Tak apa. Ini salahku, aku terlalu sembrono..”, ucapku berusaha tidak membuatnya cemas. Namun pria itu malah terlihat membuka sepatunya.

“Ya! Choi Minho! Apa yang kau lakukan?”, tanyaku.

“Pakailah!”, suruhnya tanpa mempedulikan pertanyaanku.

“I won’t!”, tolakku keras.

“Pakai saja! Atau mau kugendong?”, ucapnya memberi pilihan lain.

Deep sigh. Pria ini benar-benar..

Akhirnya aku menuruti perintahnya. Ya, aku tidak mau membuatnya lebih susah dengan menggendongku. Kini si jangkung memakai sandal dalam rumahku, dan aku memakai sepatunya yang kebesaran tapi hangat.

“Maaf.. aku kembali menyusahkanmu.”, ucapku sambil memandangi kakinya.

“Tak apa, kulit kakiku lebih tebal dari kulit badak.”, ucapnya sambil tersenyum nakal.

“Hahaha.. Dasar bodoh..”, ucapku berbumbu tawa ringan.

“Ayo!”, ucapnya memberi isyarat untuk melanjutkan langkah kami untuk pulang ke villa. Kamipun kembali berjalan melewati lereng yang agak curam itu.

And in a few seconds later..

Suasana hangat itu berubah. Entah apa yang terjadi tapi tubuh pria di hadapanku tiba-tiba oleng ke kiri dan..

SRUUUGGHHHH!!!

Secepat kilat, pria jangkung itu terjatuh ke bawah lereng diiringi suara yang keras. Pria itu bahkan tak sempat berteriak. Tubuhku mematung beberapa saat, detik selanjutnya seperti sebuah slow motion dalam film. Perlahan aku menoleh ke arah bawah lereng dengan perasaan tak percaya. Like a dream..

Damn..

Jas besar navy yang ia pakai terlihat memunggungiku sekitar 10 meter di bawah lereng sana.

“C.. c.. CHOI MINHO!!!”, teriakku pecah.

To be continued..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s