Behind The Snow [End]

Title : Behind The Snow

Author : mumuthlopeepeuekseu a.k. Muthi YS

Genre : Romance, Drama, Angst, Sad

Length : 2 shots

Rating : PG-15 (a bit profanity)

Cast : Krystal, Minho, Sulli, Siwon

Disclaimer : Cerita ini milik dan hasil ngayal saya, castnya milik Tuhan

~~

“C.. c.. CHOI MINHO!!!”

Tubuh itu tak bergeming. Beberapa kali aku terus berteriak memanggil namanya, tapi tubuh itu tetap tak bergerak. Air mataku perlahan tumpah lagi. Ketakutan yang sangat menyergapku. Aku tak mau kehilangannya!

Aku berusaha meredam kepanikanku dan berpikir jernih. Aku merogoh kedua saku mantelku, mengingat aku meninggalkan ponselku di mantel ini sejak sampai di villa. Beruntung benda persegi panjang warna putih itu memang ada di salah satu saku mantelku dan langsung menghubungi nomor orang yang terpikir dibenakku. Choi Sulli, entahlah hanya nama itu yang terpikir olehku.

Tanganku gemetar hebat saat memegangi ponsel dan menunggu suara tut yang panjang itu berhenti menjadi sahutan.

“Ya?”, sahut seorang gadis dari seberang sana.

“Sulli! Tolong aku! Kumohon hiks.. Sulli kumohon tolong Minho.. Tolong aku dan Minho!”, ucapku panik begitu mendengar ada sahutan.

“Krystal? Apa yang terjadi? Kenapa kau terdengar menangis dan panik seperti itu?”, tanyanya terdengar langsung cemas dan ikut panik.

“Hiks, Sulli.. Kumohon tolong Minho.. hiks.. semua karena aku.. hiks.. kumohon..”

~*~

3.00 p.m, Rumah Sakit

Pip… pip… pip…

Alat pendeteksi detak jantung itu terus mengeluarkan bunyi yang sama dari sisi seorang pria yang terbaring di ranjang sebelahnya. Di hidung pria yang terbaring itu terpasang selang oksigen yang membantunya bernapas. Jarum infus pun tertancap di salah satu tangannya. Sudah tiga hari sejak kejadian itu, ia tak sadarkan diri dengan kondisi seperti ini.

Raut seorang wanita paruh baya yang duduk di sisi ranjangnya nampak khawatir dan sabar menanti orang itu sadar. Membuat hatiku yang berdiri melihatnya dari ambang pintu kamarnya ini teriris dan semakin merasa bersalah. Meski sudah 3 hari juga aku menunggui pria itu di sini, tapi tak dapat menebus kesalahanku.

“Choi Minho.. kumohon… bukalah matamu yang bulat itu..”, mohonku lirih sambil menatapnya dari kejauhan.

Tiba-tiba seorang pria yang bertubuh cukup besar berkaos polo dan coat cokelat datang lalu masuk ke kamar ini tanpa mempedulikan kehadiranku. Ia menghampiri wanita paruh baya itu.

“Ma, sekarang giliranku yang menjaga Minho. Sekarang mama pulang dan istirahat ya.”, bujuk pria yang tak lain kakak Minho itu.

Wanita itu menghela napas panjang, tapi tak beranjak dari kursinya. “Siwon, kenapa adikmu terus tak sadarkan diri seperti ini?”, tanya ibu itu tak habis pikir.

Pria yang dipanggil Siwon itu hanya bisa membisu sambil mengusap bahu ibunya.

“Dokter bilang Minho hanya hampir kehabisan oksigen karena dingin dan cedera ringan di bahunya. Bukankah itu berarti tak ada sesuatu yang fatal? Dan seharusnya ia sudah tersadar sejak beberapa waktu yang lalu kan?”, tanyanya lagi.

Kali ini pria itu menjawab. “Aku mengerti, ma. Dokter juga bilang ia mengalami trauma yang membuatnya terjaga dalam alam bawah sadarnya. Kita hanya perlu bersabar menunggunya, Minho pasti akan sadar. Sekarang mama pulang dan istirahat dulu, aku pasti akan menjaga Minho dengan baik. Aku mohon ma..”, bujuknya lagi.

Awalnya ibu itu bersikeras tidak mau pergi. Namun entah apa saja yang dikatakan pria bernama Siwon itu untuk membujuknya, akhirnya ibu itu mau pulang. Ia pun beranjak dari kursinya lalu diantar keluar oleh Siwon dari kamar itu. Mereka tetap tidak mempedulikanku saat melewatiku pergi. Ya, selama 3 hari ini orang-orang memang tidak mempedulikanku. Tak ada yang mau menghiburku atau sekedar menyapaku. Aku memang pantas mendapatkannya. Semua orang tau apa yang dialami Minho disebabkan olehku.

Kudekati ranjang tempatnya berbaring, kemudian aku duduk di tempat ibunya duduk sebelumnya. Aku menatapnya dengan perasaan tersayat. Menggenggam tangannya erat, berharap dapat memberinya kekuatan.

“Minho..”, panggilku lirih.

“Minho, I love you.. aku yakin kau mendengarku.”

“Minho.. Forgive me, please.. and open your eyes..”, mohonku dengan suara yang parau.

“Kumohon.. bukalah matamu.. Aku sangat kesepian sekarang. Aku sangat merindukanmu. Aku mencintaimu, dan aku ingin kau mengatakannya kembali padaku.. Kumohon.. satu kali lagi saja..”, bisikku diiringi bulir-bulir hangat yang berjatuhan dari pelupuk mataku. Namun untuk ke sekian kalinya, tubuh itu tak juga bergerak. Ia seakan tak mendengarku, hanya ada gerakan dadanya yang naik turun tanda ia bernapas.

“Kumohon.. “, mohonku terakhir kalinya.

Nihil. Pria itu tetap menutup matanya. Membuat perasaanku semakin hancur. Aku tidak tahan lagi dan akhirnya kuputuskan untuk pergi dari tempat itu. Hanya satu tempat yang terpikirkan untukku pergi saat itu.. Hutan bersalju..

Author POV

Beberapa menit setelah gadis berambut kecokelatan itu pergi, kamar menjadi sepi. Kini pria itu benar-benar sendiri dalam peraduannya. Tangannya perlahan mulai bergerak dan matanya perlahan mulai terbuka. Pupilnya tak bisa langsung menerima cahaya dengan baik karena secara teknis beberapa hari tak menerima cahaya sedikitpun. Detik demi detik kesadarannya pun mulai pulih total. Otaknya langsung berusaha mengingat apa yang terjadi.

“Krystal!”, panggilnya.

Suara gadis itu terasa masih hangat terdengar darinya terjaga. Ia pun bangun dan melepas alat medis di tubuhnya yang sudah tak ia perlukan lagi. Matanya berputar mencari gadis yang namanya ia sebutkan barusan. Si Pria yakin merasakan kehadiran gadis berambut kecokelatan yang terakhir ia lihat di lereng itu.

“Minho kau sudah sadar?! Padahal baru saja aku mengantar mama pulang dengan taksi.”, seru seorang pria bercoat coklat yang baru kembali.

Pria yang disebut Minho tidak menjawab, ia malah sibuk mencari sosok gadis bernama Krystal.

“Kau tidak apa-apa?”, ucap pria itu lagi sambil memegangi tubuh Minho, memastikan tak ada hal yang salah. Namun Minho tak menghiraukan pertanyaan kakaknya.

“Hyung melihat Krystal?”, tanya Minho.

Pria yang disebutnya hyung itu hanya membulatkan matanya heran. “Krystal?”

“Iya, Krystal. Aku merasa barusan dia ada di sini.”, tutur Minho.

Kakaknya hanya menatap Minho heran dan bingung. Perasaan tidak enak dan takut langsung menyerang Minho melihat reaksi kakaknya.

“Berapa lama aku tak sadarkan diri?!”, tanya Minho dengan suara meninggi.

“Tiga hari dan selama itu aku tak pernah melihat Krystal datang ke sini menjengukmu.”, jawabnya.

DEG.

Jantung Minho seperti berhenti berdetak beberapa saat. Jawaban kakaknya membuat rasa takut itu semakin menghantuinya.

“Bagaimana mungkin?! Lalu bagaimana aku bisa ada di sini?!”, tanya Minho lagi.

“Sulli yang menelepon tim penyelamat dan aku untuk mencarimu di hutan.”, jelasnya.

“Lalu apa kalian tidak menemukan Krystal? Hyung tau kan hari itu aku pergi ke villa bersama Krystal?”, tanya Minho semakin tegang.

Kini pria yang ditanya Minho itu mulai merasakan firasat yang tidak enak juga. “Ya.. tapi saat itu aku dan tim penyelamat hanya menemukanmu tergeletak di lereng. Maafkan aku.. saat itu aku tak berpikir Krystal juga ada di sana dan segera menyelamatkanmu..”

Wajah Minho memucat. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah segera menemukan Krystal.

“Hyung, aku minta kunci mobilmu!”

~*~

4.30 p.m, Hutan Sekitar Villa Keluarga Choi

Kabut itu masih membelenggu hutan ini, dahan-dahan pohon itu pun masih dibalut salju. Seorang gadis berambut panjang kecokelatan, mengenakan mantel dan dress warna salju berjalan perlahan menyusuri hutan. Ia kembali ke hutan ini dengan perasaan yang hancur, sama seperti sebelumnya.

Beberapa menit kemudian langkahnya terhenti di salah satu lereng gunung itu. Dipandanginya sekitar lereng yang curam itu. Membuka ingatan yang membuat hatinya hancur dan kembali ke sini. Bagaimana pria yang ia sangat cintai terjatuh ke bawah lereng begitu saja di depan matanya. Sementara ia hanya bisa berteriak memanggil nama pria itu dengan panik.

Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah pohon yang ada di bawah lereng 2 sampai 3 meter dari tempat kekasihnya tergeletak saat itu. Ia melihat kilauan cahaya kecil, seperti pantulan matahari pada benda yang berkilau. Aneh, di hutan ini dipenuhi kabut, tak ada cahaya matahari sama sekali. Entah darimana cahaya itu berasal. Meski sekilas tapi kilauan cahaya itu membuatnya ingin memandangi cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya. Gadis itu masih belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi padanya.

Angin berhembus menerbangkan rambutnya yang lurus. Suara desiran angin yang juga menerbangkan butiran salju itu bagai jeritan pilu yang menyakitkan hati. Namun ia tak beranjak di tempatnya berdiri, gadis itu masih betah memandangi cincin yang diberikan pria itu. Tiba-tiba terlihat kilauan seperti yang barusan ia lihat dari cincinnya. Sedetik kemudian, ingatannya yang sempat hilang terputar bagai roll film.

Dalam ingatannya, ia melihat seorang gadis dengan panik menelepon seseorang untuk meminta bantuan. Setelah itu, dia masih belum bisa merasa tenang. Panik dan ketakutan terjadi sesuatu pada pria yang tergeletak di bawah sana jika tak segera diselamatkan terlalu menghantuinya. Gadis itu terlalu takut kehilangan pria itu. Hingga ia putuskan mencari cara untuk menyelamatkan pria itu sendiri. Tapi sesuatu yang buruk malah ikut menimpanya, bahkan lebih buruk. Salju itu sangat rapuh dan licin, ia pun tergelincir lebih dalam di lereng dengan posisi yang cukup fatal. Tubuhnya yang tergelincir bebas menabrak sebuah pohon cukup keras hingga melongsorkan salju yang cukup tebal dari dahan-dahan pohon tersebut. Ia tak sadarkan diri dalam timbunan salju. Tubuhnya yang berbalut mantel dan dress berwarna senada dengan salju, membuatnya semakin tak terlihat…

Kini ia ingat semuanya. Tubuhnya bergetar hebat. Matanya melihat ke arah kakinya, ia masih memakai sepatu yang kebesaran milik pria itu. Lalu gadis itu menoleh ke arah di mana ia datang. Di atas tumpukan salju itu tak ada satu pun jejak atau bekas langkah seseorang baru melewatinya. Gadis itu roboh, ia hanya bisa jatuh terduduk menyadari semuanya…

“That’s me?”, gadis itu bertanya-tanya sendu. Tak ada yang bisa menjawabnya, tapi ia sendiri tetap tau jawabannya. Hati gadis itu sekarang terasa kosong. Benar-benar kosong.

Dua orang pria berjalan dengan cepat ke arah gadis itu. Ya, dua orang yang ia lihat di rumah sakit. Seorang pria berpakaian pasien dilapis jaket biru yang tebal dan satunya berkaos polo bercoat cokelat. Mereka berhenti tepat di hadapan gadis itu. Tak ada yang bisa gadis itu lakukan saat melihatnya.

Pria bernama Minho itu sama sekali tak melihat gadis yang ia cari tengah terduduk beberapa inchi di belakangnya. Yang ada ia nekat langsung menuruni lereng.

“Minho!”, teriak Siwon tak menyangka dengan tindakan spontan adiknya. Dalam hitungan detik pria yang memanggil Minho pun ikut menuruni lereng. Salju yang kini lebih tebal membuatnya lebih berbahaya tak menghentikan kedua pria itu. Gadis itu bangkit, lalu menyusul kedua pria itu.

Minho berhenti sejenak di sekitar ke dalaman 8 meter.

“Hyung, di mana kau menemukanku saat itu?”, tanyanya.

“Lebih ke bawah 2 atau 3 meter lagi. Minho, sebaiknya kita tunggu tim penyelamat! Lereng ini sangat berbahaya!”,  jawab pria yang dipanggil hyung itu lalu berusaha memperingatkan adiknya.

Percuma. Minho kembali menuruni lereng itu. Begitu ia merasa tempatnya berpijak adalah lokasi yang dikatakan kakaknya ia kembali berhenti.

“KRYSTAL!!!”, panggilnya dengan suara yang cukup menggelegar.

Hening. Hanya ada suara angin yang berhembus lirih menjawabnya.

Di tempat yang tak jauh darinya, gadis yang ia panggil diam menatapnya. Pandangan gadis itu sendu, sangat ingin ia menjawabnya. Tapi ia sadar itu akan sia-sia.

“JUNG KRYSTAL!!!”, teriaknya lagi. Masih hening. Wajah pria itu semakin panik.

Pria bercoat cokelat itu juga ikut meneriakkan nama yang sama. Begitu terus hingga beberapa waktu yang cukup lama dan membuat tenggorokkan mereka kering. Mata kedua pria itu pun tak berhenti menyisiri sekitar lereng.

“Krystal!”, teriak pria berseragam pasien rumah sakit itu untuk yang ke sekian kalinya. Suaranya terdengar semakin parau. Ia hampir putus asa, tapi keinginannya untuk menemukan gadis bernama Krystal itu lebih besar.

“Minho, sebaiknya kita tunggu tim penyelamat yang menemukannya.”, bujuk Siwon. Ia sungguh tidak tega melihat adiknya terus berteriak hingga pucat seperti itu.

Minho berbalik menghadap kakaknya. “I won’t stop! Before I can find her, hyung!”, tegasnya dengan tatapan nanar. Mendengar adiknya yang keras kepala dan tak bisa dibantah, membuat ia hanya bisa menghela napas. Bersamaan itu, mata Minho mulai terusik dengan gundukan salju yang ganjal di bawah sebuah pohon 1 meter di belakang tubuh kakaknya.

Perasaannya berkecamuk, tapi kakinya melangkah perlahan melewati kakaknya dan mendekati gundukan itu. Perlahan, dengan tangan telanjang ia menggali gundukan itu. Gadis itu mulai menangis lagi memandangi apa yang dilakukan pria itu.

Mata pria itu membulat tak percaya, kala ia menemukan sebuah tangan yang pucat dan beku. Di jari manisnya tersemat cincin yang ia berikan beberapa hari yang lalu. Tangan pria itu gemetar, tapi ia terus menggali gundukan salju itu. Pria yang ada di belakangnya sangat terkejut. Namun ia hanya bisa mematung melihat apa yang ditemukan adiknya.

His quest ends..

Semuanya semakin jelas. Tubuh gadis itu sangat dingin. Berhari-hari tertimbun salju membuatnya kehabisan oksigen dan membeku. Pria bernama Minho itu merengkuh tubuh kekasihnya. Tangis gadis itu semakin kencang namun tertelan kebisuan. Ia ambruk di sisi pria yang memeluk jasadnya.

“Tak apa Krystal.. kau akan lebih hangat sekarang. Aku sudah menemukanmu. Kumohon jangan seperti ini..”, ucap pria itu lirih. Minho terus berusaha menyangkal batinnya. Menganggap semuanya baik-baik saja. Namun tak berhasil, air mata pria itu meleleh.

“Krystal.. Maafkan aku.. aku sangat mencintaimu..”

Angin berhembus kencang, meniupkan kepingan-kepingan salju saat pria itu begitu tulus mengucapkan hal itu. Perlahan tubuh gadis yang menangis di sisinya memudar. Seperti ikut terbawa terbang salju-salju itu tertiup angin. Semakin memudar.. Gadis itu menyadari ia akan benar-benar hilang sekarang. Untuk terakhir kalinya..

“Aku juga sangat mencintaimu… Choi Minho..”

Iklan

2 thoughts on “Behind The Snow [End]

  1. aku dah baca part 1 .tp komennya skalian aja deh..
    awalnya gk ngerti …tntg krystal yg d rs tp kok gk ada yg mmprduliknnya…trnyata itu arwah:-(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s