Teach Me [Bab 9]

Bab 9

“Huh?”, aku terperangah. Kata-kata yang sebelumnya Touya ucapkan memaksaku menatap kedua bola matanya yang dingin. Sedetik kemudian Touya benar-benar mengatakan sesuatu hal yang membuatku mungkin tidak ingin mendengarnya.

“Aku sudah memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai guru lesmu.”

DEG.

Rasanya seketika ribuan kapas telah menyesaki dadaku hingga tenggorokkan. Ingin kumuntahkan kapas-kapas yang menyesakkanku ini sekarang juga, tapi ironis. Bibirku malah terkatup rapat.

Sakit.

Aku hanya bisa tertunduk diam dan memegangi dadaku, menahan perasaanku dan rasa sakit. Sial. Kenapa mahluk ini baru mengatakannya sekarang? Kenapa tidak ia katakan saat 2 atau 3 blulan yang lalu saja? Kenapa ia mengatakannya di saat aku tidak ingin mendengarnya? Kenapa harus dikatakan saat aku sudah menyukainya?

Tes..

Touya bodoh. Kenapa dia selalu berhasil menjatuhkan air mataku?

“Yuri..”, panggil Touya tiba-tiba. Sepertinya dia heran kenapa aku malah terdiam terus.

Aku langsung mengambil langkah mundur kemudian membungkukkan badan sekilas.

“Terima kasih atas bimbingannya selama ini, Pak Ikeda.”, ucapku tanpa memperlihatkan wajahku, lalu mengambil langkah pergi.

“Yuri?”, panggil Touya terdengar makin keheranan.

Aku terus mempercepat langkahku menjauh dari tempat itu. kurasa dia mencoba menyusulku.

“Yuri?!”, panggil Touya lagi. Kali ini dibarengi tangannya yang menarik bahuku lalu memutar badanku agar menghadapnya.

Ah.. dia melihatnya.

“Yuri?! Kenapa kau menangis?!”, tanya Touya dengan nada cemas.

Aku hanya tertunduk sambil terisak. Aku benar-benar tidak mau menatapnya sekarang..

“Apa yang harus kulakukan sekarang?”, desis Touya dan sejurus kemudian menarikku pergi dari tempat itu.

♥☺♥

Suara isakan terdengar menggema di dalam sebuah mobil hitam metalik yang terparkir di sebuah lahan kosong. Seorang cowok yang duduk di kursi kemudi terlihat menenggelamkan wajahnya di atas stir mobil. Sementara tepat di sebelah kursi kemudi, terdapat seorang cewek yang sedang menangis. Ya, cewek itu aku..

Terlihat sebuah gerakan dari cowok yang duduk di sebelahku. Ia mulai menengadahkan wajahnya dan menoleh ke arahku.

“Apa yang harus kulakukan?”, tanyanya. Hah.. dia sudah bertanya seperti itu sekitar 10 kali, setidaknya sejak aku mulai menangis 30 menit yang lalu.

“Hiks..”, aku hanya bisa terisak.

Kali ini, cowok itu mengambil posisi duduk yang benar dan tidak kembali menenggelamkan kepalanya pada stir mobil seperti sebelumnya.

“Yuri.. apa yang sebenarnya membuatmu menangis? Hah.. jika kau menangis karena membenciku, katakanlah sesuatu. Setidaknya, mungkin kau bisa mengumpat padaku seperti yang biasanya kau lakukan.. Melihatmu terus menangis dan diam sekarang ini hanya membuatku bingung..”, ungkapnya.

Cih, sepertinya dia sudah bosan mendengar tangisanku. Baiklah.. harus kuakhiri situasi seperti ini. Ini hanya membuatnya dan aku tidak nyaman saja..

Aku menarik napas panjang, kemudian menyeka air mataku.

“Antarkan aku pulang saja..”, pintaku dengan suara parau. Akhirnya aku bisa mengeluarkan suaraku lagi yang sejak tadi terkunci tangis.

Mata Touya menatapku lekat, alisnya mengernyit seperti aneh dan tak percaya dengan yang kukatakan barusan.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah jendela mobil dan coba menerawang apapun yang bisa kulihat di luar sana. Kumohon jangan paksa aku untuk melihat wajahmu..

Lima menit kurasa telah berlalu sejak kuminta diantar pulang. Tapi mesin mobil ini tak kunjung berderu dan masih diam di tempat. Ini sudah cukup!

“Kumohon antarkan aku pulang!”, pintaku lagi tanpa memandang Touya. Kali ini aku memohon.

“Tidak.”, tolak Touya singkat.

“Apa?”, ucapku dan refleks mendelik ke arah Touya. Kulihat ekspresi dingin itu tersaji kembali di hadapanku.

“Kubilang tidak.”, ulangnya dengan datar.

Apa dia pikir aku tidak mendengarnya?

“Baiklah!”, ucapku. Sejurus aku membuka sabuk pengamanku dan bersiap keluar dari mobil.

KLAKK!

Bingo.

Aku kalah cepat. Touya segera menekan tombol pengunci otomatis seluruh pintu dan jendela mobil ini.

Aku mengepal kedua tanganku menahan kesal dan melemparkan tatapan tajam pada Touya. Kenapa dia harus menahanku?

“Apa? Kenapa menatapku seperti itu?”, protes Touya lalu memutar matanya untuk memandang lurus ke depan.

“Apa kau masih senang mengunciku bersamamu di dalam mobil seperti ini?!”, sindirku pedas.

“Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Mana mungkin aku membiarkanmu pulang dengan mata sembab seperti itu?!”, omelnya. Ia kembali menatapku dengan pandangan yang tak habis pikir.

Aku tertegun mendengar kata-kata Touya. Kuarahkan kaca spion dalam ke wajahku. Hah.. dia benar.

BUKH..

Kubanting tubuhku ke jok mobil lalu membuang napas. “Sekali lagi kumohon, antarkan aku pulang!”, mohonku lagi.

“Kau ini bersikeras sekali?! Sebenarnya ada apa denganmu, hah?”, tanya Touya terlihat tidak terima melihat sikap morang maringku.

“Aku membencimu! Antarkan aku pulang!!!”, rengekku pada Touya.

“Baiklah! Aku akan mengantarkanmu pulang! Tapi..”, ucap Touya menggantung.

“Apa?”, tanyaku sinis sambil mendelik tajam.

“Beri aku alasan apa yang membuatmu menangis?”, tanyanya kemudian.

Orang ini!!! Hah! Dia hanya bisa membuatku kesal! Kenapa aku bisa menyukai mahluk seperti dia?! Hah.. Deep sigh.

“Mau pulang tidak?”, desak Touya.

“Aku menangis karena membencimu! Sekarang antarkan aku pulang!!!”, ucapku asal.

“Lalu?”, tanya Touya lagi.

“Antarkan aku pulang!”

“Tidak. Aku belum puas mendengar alasanmu.”, ucap Touya.

Di, dia, sekarang malah terdengar sedang mempermainkanku! Baiklah, akan kukatakan!

“Aku menangis karena aku kesal! Kau melepaskanku setelah meninggalkan kesan yang buruk untukku!”, ungkapku lantang.

Hah, mau apa dia sekarang.

“Kesan buruk seperti apa?”

“Segala sikap kasar, dingin dan.. Pengecut!”, ucapku kasar.

Touya terlihat tidak menyangka dengan kata terakhir yang kuucapkan. Wajahnya menyiratkan rasa bersalah sekarang. Sepertinya aku terlalu kasar.. salahnya sendiri.. Dia yang memaksaku mengatakannya. Touya kini terdiam, tak sadar aku memperhatikan wajahnya. Sial, malah terbayang kembali kejadian naas itu..

“Aku benci ciuman aroma sake itu.”, desisku meluncur begitu saja. Langsung kualihkan pandanganku dari wajah Touya.

Suasana kembali hening. Kami kembali sibuk dengan pikiran masing-masing. Hah.. jujur, aku sedikit merasa bersalah. Kata-kataku terlalu kasar. Kenapa hubunganku dengan Touya harus serumit ini..

“Kau tau, apa alasan utamaku akhirnya berhenti jadi guru lesmu dan ingin melepaskanmu?”, tanya Touya memecah keheningan.

Meski mataku menerawang keluar jendela, tapi telingaku masih menangkap pertanyaannya. Haruskah kujawab, ‘Karena kau ingin meninggalkanku!’. Mana mungkin aku mau menjawab seperti itu?! Tidak, aku sedang malas membuka mulutku lagi sekarang. Aku tidak ingin mengeluarkan kata-kata yang lebih kasar padanya.

Touya sempat menoleh ke arahku dan tersenyum. Terlihat dari pantulan kaca jendela mobil. Aish.. Senyumnya, kembali membuat tempo detak jantungku tidak karuan.

“Kau tidak ingin menjawabku?”, tanya Touya lagi.

Aku hanya terdiam, mungkin aku memang tidak ingin menjawabnya. Meski aku penasaran apa alasan Touya sebernarnya.

“Baiklah, kali ini aku yang akan mengoceh sendirian. Lagi pula aku juga bosan jika aku terus yang mendengarkan ocehan cemprengmu.”, ejek Touya.

Refleks aku mendelik pada Touya. Touya malah terlihat terkekeh melihat reaksiku.

“Alasan utamaku untuk berhenti, karena aku menyadari telah melakukan sesuatu yang seharusnya dihindari seorang guru. Mungkin untuk beberapa orang apa yang kulakukan sebuah kesalahan besar..”, ungkap Touya. Meski ia memandang ke depan, kali ini wajahnya terlihat agak serius.

Ha? Apa dia kembali berkata menyadari dia telah berbuat salah besar padaku? Yang benar saja?!

“Boleh tanya sesuatu? Apa kau juga berpikir seperti beberapa orang tentang yang kulakukan adalah kesalahan besar?”, tanya Touya lagi.

Aku hanya bisa bengong mendengar pertanyaan Touya. Sepertinya ia membicarakan kesalahannya yang lain, dan aku tidak mengerti itu.

“Menurutmu, guru yang jatuh cinta kepada muridnya sendiri sebuah kesalahan besar bukan?”

“Huh?..”, aku terperangah mendengar pertanyaan Touya.

Tak lama ia menoleh padaku, dan balas menatapku. Tatapannya lembut..

“Maaf.. aku menyukaimu, Yuri..”

DEG.

Tubuhku terasa mematung seketika. Waktu seakan berhenti setelah ia mengatakan hal itu. Entah apa yang kurasakan sekarang.. Mata kami masih bertemu satu sama lain. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku senang? Ingin, aku juga mengatakan aku pun menyukainya.. tapi, di satu sisi, apa ini sungguhan? Bagiku, sepertinya itu mustahil.. Ah.. aku, aku tidak tau.. Ya ampun, sepertinya ada sesuatu yang tengah meledak-ledak euforia di hatiku..

Tapi..

“Kau tidak sedang mempermainkan aku kan?”, ucapku ragu. Hah, kenapa hanya kata-kata seperti itu yang bisa keluar dari mulutku sekarang?

Mata Touya membulat. Ia terlihat tidak menyangka kata-kata yang keluar dari mulutku. “Terlihat seperti itu kah?!”. Tak lama, ia berusaha mengalihkan pandangannya dariku. Sekilas, kekesalan terlihat di raut wajahnya.

“Apa kau mengatakan yang sebenarnya?”, tanyaku.

“Apa?”, tanya Touya balik.

“Apa kau tidak mempermainkan aku?”, tanyaku lagi.

“Sejak awal aku tidak sedang main-main. Sudahlah, aku berkata benar ataupun bohong, bagimu sudah tak ada bedanya bukan?”, jawab Touya dingin. Ia mulai bergerak untuk menyalakan mesin mobilnya.

Apa dia benar-benar menyukaiku? Meski aku senang, tapi aku masih penasaran. Apa dia sungguh-sungguh??

“Lupakan saja apa yang kukatakan tadi! Anggap saja tidak pernah kukatakan!”, cetus Touya kemudian.

DUK!

Tiba-tiba sebuah kotak tisu melayang ke kepala Touya.

“AWW! Apa-apaan kau?!”, sewot Touya refleks sambil mengusap kepalanya.

“Bodoh! Kau yang apa-apaan?! Baru saja kau bilang menyukaiku dengan wajah yang meyakinkan, tapi sedetik kemudian kau sudah bersikap menyebalkan lagi padaku!”, serangku dengan nada meninggi.

Ukh, salahnya sendiri! Kenapa ia selalu memancing emosiku!

“Lalu aku harus bersikap seperti apa? Meski aku bilang menyukaimu, tapi tak mengubah apapun bagimu kan? Kau hanya berpikir aku mempermainkanmu!”, ucapnya membela diri.

“Dasar Pak tua jelek! Jangan sok tau! Aku kan hanya bertanya?! Lagi pula, wajar saja jika aku bertanya seperti itu! Siapa yang tidak kaget mendengar pernyataan seperti itu dari orang sepertimu?!” cerocosku.

“Lalu? Apa sekarang merubah sesuatu?!”, tanyanya. Ia terlihat tak habis pikir.

“Ya! Kau sudah membuatku bingung!”, jawabku lantang.

“Hah..”, Touya terlihat membuang napas. “Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi.”, ucapnya sedikit bosan.

“Berhentilah mengucapkan kata maaf itu padaku! Terdengar memuakkan. Lagi pula semua kata maafmu itu tidak bisa menebus seluruh kesalahanmu!”, ucapku ketus.

Lagi-lagi ia terlihat membuang napas. Ia terlihat sudah lelah. “Baiklah, aku tidak akan mengucapkan kata maaf lagi. Lalu apa yang bisa membuatku menebus seluruh kesalahanku?”, tanya Touya melunak.

“Pertama, antarkan aku pulang dulu!”

“Baiklah.”

♥☺♥

“Kita sudah sampai.”, ucap Touya begitu sampai di depan rumahku.

Ish, dia baru kembali mengeluarkan suaranya setelah tiba di rumah.

“Aku tau.”, ucapku sambil menatap lurus ke depan.

Mendengar kata-kataku Touya hanya terdiam.

“Kedua.”, ucapku tak lama kemudian.

“Apa?”, ucap Touya tak mengerti.

“Kau pikir mengantarku pulang saja, bisa langsung menebus seluruh kesalahanmu?!”, ucapku mengingatkan.

“Ah.. aku mengerti. Sekarang kau menjadikan rasa bersalahku sebagai senjata.”, ucapnya sinis.

Aku mendelik. “Sudah seharusnya!”

“Apa yang kedua?”, tanyanya. Touya sepertinya sudah tidak ingin berdebat lagi denganku.

Haha.

Sejak di perjalanan menuju ke rumah aku sudah menahan diri untuk tidak tersenyum atau pun tertawa di hadapan Touya. Ya, aku senang! Seperti mimpi.. aku tidak menyangka, Touya berkata dia menyukaiku. Awalnya aku memang ragu.. tapi, aku tidak bisa berbohong. Aku sangat ingin percaya padanya. Dan karena aku juga menyukainya..

Maaf, aku hanya ingin membuatnya sedikit kesulitan. Ya.. alasannya aku juga gengsi untuk mengakuinya..

“Kau harus benar-benar bisa membantuku hingga masuk Universitas T!”, ucapku mantap.

“Apa?!”, seru Touya.

“Aku tau kau tidak tuli.”, cetusku.

“Bagaimana bisa? Kan sudah kubilang aku mengundurkan diri jadi guru lesmu?”

“Ng.. berarti kau harus memikirkannya kembali.”, ucapku ringan.

Touya terlihat berpikir. Melihat ekspresi Touya yang keheranan dan banyak berpikir itu, membuatku tak sadar tertawa kecil. Touya menyadarinya dan memandangku.

“Apa yang kau lihat?!”, ucapku sewot. Buru-buru kupasang wajah jutek padanya.

Dia malah tersenyum. “Sudah lama aku tidak melihatmu tertawa seperti itu.”, ucapnya.

Oh God..

Dia sukses membuat pipiku memanas. Aku mulai berpikir, aku bisa meleleh sekarang.

“Te, terakhir!”, seruku kemudian dengan sedikit terbata berusaha mengalihkan perhatian.

“Terakhir? Apalagi?!”

Aku berusaha menghela napas. Ehm.. permintaan terakhirku ini membutuhkan sedikit keberanian. Ya.. aku ingin semuanya menjadi lebih jelas saja.. kutatap Touya..

DAG DIG DUG

Ukh.. jantungku berdebar-debar..

“Yuri?”, panggil Touya. Aku terdiam terlalu lama.

Mendengar panggilan Touya, aku malah semakin diam.

“Wajahmu memerah lagi. Sepertinya angin awal musim dingin membuat seperti ini. Kau harus segera masuk ke rumah!”, ucap Touya agak cemas sambil membuka sabuk pengamannya. Sepertinya ia hendak turun dari mobil. Aish, ternyata dia benar-benar perhatian padaku.

“Tidak.. aku tidak apa-apa..”, sanggahku sambil tertunduk.

“Mana mungkin?! Aku tidak mau melihat kau sakit lagi!”, ucapnya lalu coba memegang keningku. Ia pikir mungkin aku demam.

Saat ia memegang keningku, kata-kata yang ada di kepalaku akhirnya bisa meluncur juga..

“Katakan lagi..”

“Eh?”, pekik Touya.

“Yang terakhir. Katakan lagi alasan kau ingin mengundurkan diri sebelumnya..”

Hening sejenak.

“Memangnya kau akan percaya jika aku mengatakannya lagi?”

“Ng.. Mu, mungkin..”, ucapku terbata.

Aish! Aku malah tidak berani menatapnya sekarang!!!

Sepertinya dia langsung mengerti maksudku. Aku ingin meleleh!!!

Ya, bisa dibilang, barusan secara tidak langsung aku meminta Touya kembali mengungkapkan perasaan padaku.

Touya perlahan melepaskan pegangan tangannya di keningku. Kini tangannya malah merambah ke kepalaku, lalu mengacak rambutku pelan.

Tak lama Touya malah bergerak keluar dari mobil. Apa dia tidak mau mengatakannya lagi?

CEKLEK

Tiba-tiba Touya sudah membukakan pintu mobil untukku. Sepertinya dia ingin aku turun dari mobilnya.

Akhirnya aku turun dengan lesu dan berjalan ke rumah. Menyebalkan, tidak berkata apa-apa, tapi sekarang dia mengikutiku masuk ke teras rumah.

Aku tertahan, ketika sampai di depan pintu, karena tiba-tiba tangan Touya meraih tangan kananku dan menggenggamnya. Aku sedikit menengadah untuk melihat ke arahnya. Yang kutemukan, wajahnya yang tengah tersenyum hangat padaku.

BLUSH

Darahku seperti mendidih sekarang.

“Aku akan mengatakannya kembali saat aku sudah berhasil memenuhi permintaanmu yang kedua.”, ucapnya.

Aku menatapnya heran. Kenapa harus menunggu aku masuk Universitas T?, pikirku.

“Aku harus memperbaiki kinerjaku dulu sebagai guru yang baik untukmu.”, ucap Touya seperi tau apa yang kupikirkan.

Ish.. itu kan masih cukup lama.. hah, bibir manyun dengan muka mengkerutku kumat.

“Aku janji. Di saat itu tiba, aku akan mengatakannya kembali padamu dan aku akan membawakanmu karangan bunga yang lebih besar daripada yang pernah kubelikan untuk Ryou.”, ucapnya lagi sambil tertawa kecil.

“Dasar bodoh..”, hardikku sambil ikut tertawa kecil.

Setelah beberapa saat kami tertawa kecil, kami terdiam. Ya.. setidaknya menikmati saat-saat saling memandangi seperti ini. Hyaaaaaah!!! Aku senang sekali…

“Ehm.. rumahmu kelihatan sepi? Aku juga tidak melihat mobil Pak Sagara”, tanya Touya basa basi.

“Oh.. iya, sepertinya mereka belum pulang. Ayah dan ibu beberapa hari ini sedang sibuk dengan usaha cathering baru kami. Kata ayah sih, usaha ini untuk mengisi waktu senggang ibu.”, jelasku.

“Oh..”, Touya hanya ber-oh ria.

Keadaan hening kembali. Tangan Touya belum juga melepaskanku. Sedikit canggung.. tapi aku menyukainya..

“Yuri..”, panggil Touya tiba-tiba dengan lembut.

“Hm?”, sahutku. Ya.. kulihat wajahnya perlahan mendekat ke wajahku. Jantungku berdegub kencang. Mungkinkah Touya akan.. kurasa aku cukup memejamkan mataku..

Duk.

“Eh?”, pekikku dan refleks membuka mataku. Yang kurasa hanya jidatku dan jidat Touya yang beradu. Kulihat wajah Touya yang hampir tidak ada jaraknya dengan wajahku, hembusan napasnya saja bisa kurasakan. Ia tersenyum.

“Aku baru ingat, cewek di depanku benci ciuman aroma sake yang pernah kuberikan..haha”, ejeknya sambil tertawa ringan dan menegakkan badannya yang sempat sedikit membungkuk.

“Ya! Apa kau mempermainkan aku?!”, ucapku kesal.

“Jadi kau tadi mengharapkannya terjadi?”, goda Touya.

“Pak tua!”, bentakku. Dia malah ketawa cengengesan.

“Itu sangat tidak lucu!!!”, cetusku lalu melepaskan tangan Touya dengan kasar.

CUP!

Dengan cepat Touya mengecup keningku.

“Maaf, barusan aku gugup. Sampai jumpa besok, gadis cilik!”, pamit Touya lalu melenggang pergi menuju mobilnya. Sekilas Touya menyembunyikan wajahnya yang memerah. Apa ia malu? Ah.. dia juga bisa bersikap seperti anak kecil..

Aku tertegun sejenak. Perlahan meraba keningku. Senyum manis terkembang di bibirku.

“Dasar Pak tua bodoh.. Sampai jumpa besok..”

End???

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s