Teach Me [Bab 7]

Bab 7

Ryou melajukan motor Touya dengan kecepatan sedang. Jalan arah pulang ke rumah Touya sudah terlihat agak sepi. Tiba-tiba..

CKIIIIIITTTT!!!!

Ryou ngerem mendadak. Hal itu membuat Touya cukup kaget.

“Ryou?!”, seru Touya.

Ryou menepikan motor lalu membuka helm. “Aku akan turun di sini. Kurasa untuk selanjutnya kau bisa mengendarai motormu sendiri.”, ucap Ryou datar.

Touya terdiam sejenak. Ryou sempat menoleh ke belakang melihat Touya yang terlihat termangu itu.

“Tahan motormu, aku mau turun.”, ucap Ryou.

“Tunggu!”, tahan Touya tiba-tiba dan membuat Ryou menghentikan pergerakannya untuk turun dari motor *halah bahasa njelimet.

“Apa?”, sahut Ryou.

Plok.

Dagu Touya bertengger nyaman di bahu Ryou, sontak membuat Ryou merinding setengah hidup.

“A, apa yang kau lakukan?!”, kata Ryou risih dan berusaha menyingkirkan kepala Touya yang gelayutan dari bahunya.

GYUT.

Ryou dibuat makin merinding, karena kini tangan Touya melingkar di perut Ryou.

“TOUYA!!!!!”, teriak Ryou panik.

“Sssssssttt! Jangan teriak!”, bisik Touya ringan.

“Bagaimana aku tidak teriak hah?! Apa yang sedang kau lakukan? Lepaskan!!! Jangan main-main!!!”, Ryou meronta-ronta.

Masih dengan posisi gelayutan yang mengundang prasangka, Touya berbisik, “Maukah kau jadi teman gayku saja??”.

TIK.. TOK.. TIK.. TOK..

Muka Ryou memucat. “HIIIYYY!!!!! LEPASKAN AKUUUU!!!!”, seru Ryou dan kontan berontak lebih brutal berusaha lepas dari jeratan maut Touya. Terjadi kericuhan antara Ryou dan Touya di atas motor. Ryou benar-benar panik saat itu dan ngamuk ga jelas sampai..

GUBRAK!!!!

Motor yang sedang mereka naiki oleng dan jatuh berantakan. Mereka berdua tertindih motor Touya dengan naas…

Beberapa saat kemudian.. ÙÙÙ

Motor Touya sudah terparkir di pinggir jalan sedangkan Touya dan Ryou sudah duduk termenung di trotoar tak jauh dari motornya. Persis anak hilang.

“Touya!”, Ryou angkat suara.

“Hm..?”, sahut Touya lalu menoleh pada Ryou yang duduk dengan jarak nyata.

“Aku tau kau itu buta sake.. tapi meminum satu kaleng sake buah tidak akan membuat orang yang tidak biasa meminum sake mabuk hingga lebih dari 2 jam. Kadar alkohol dari sake buah itu rendah, seharusnya kau tidak mabuk selama 3jam. Apalagi hingga melenceng seperti tadi! Aku tau kau tidak sungguh-sungguh dengan kata-katamu barusan.”, ucap Ryou menyindir dengan nada sinis.

Touya terdiam. Jelas dia mendengar ocehan sobatnya barusan. Namun sepertinya ia enggan menanggapinya.

Ryou menatap Touya heran. “Hm.. Sejak kapan kau terbangun dan tersadar dari mabukmu?”, tanya Ryou kemudian.

“Mungkin 5 menit sebelum kau datang.”, jawab Touya datar.

“Ha? Lalu kenapa kau tak langsung bangun dan pulang sendiri? Jangan bilang kau memang sengaja menunggu datang?!”, tanya Ryou heran dan sedikit Ge.eR.

Touya menoleh pada Ryou. Beberapa saat mereka saling berpandangan penuh arti dan makna.

“Jangan memandangiku seperti itu!”, omel Ryou lalu mengalihkan pandangannya, sepertinya Ryou masih sedikit sensi. “Sudah cukup Yuri salah sangka tentang hubungan kau dan aku! Jangan sampai hal itu terpikir lagi oleh Yuri atau orang lain!”

“Aku tidak bermaksud membuat kesalahpahaman seperti itu..”, ucap Touya ringan.

“Kau?”, ucap Ryou terdengar gemas. “Baiklah.. kau belum jawab pertanyaanku, kenapa kau tidak langsung bangun? Apa telah terjadi sesuatu saat kau mabuk?”

Lagi-lagi Touya hanya terdiam. Hal itu membuat Ryou sedikit kesal. “Heh! Jawab pertanyaanku! Apa yang telah terjadi saat kau mabuk? Apa kau melakukan sesuatu hal yang salah??”

JREEEBBBBHHHH!!!!!

Panah nyasar serasa menancap tepat di kepala Touya saat Ryou bertanya seperti itu. Seketika wajah Touya yang sebelumnya sudah kusut bertambah kusut saja.

“Haaaaaaaaaahh…”, Touya hanya menghela napas panjang. Dia tidak bisa membayangkan apa yang telah ia lakukan saat ia mabuk. Wajahnya terasa memanas sehingga menimbulkan rona merah di wajahnya.

Ryou menangkap sinyal tidak beres dari sikap Touya. “Jangan bilang kau telah melakukan sesuatu yang tidak pantas pada Yuri.”, tuduh Ryou menusuk.

Touya terasa makin beku dengan ucapan Ryou.

KRIK~ KRIK~ KRIK~

Touya malah terdiam membisu dan mematung, mungkin sudah seperti patung keramat dekat kuil.

Melihat sikap Touya yang malah terdiam seperti itu, membuat Ryou semakin aneh sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya pada Touya.

“Ah.. Apa yang sudah kau lakukan pada Yuri? Apa begitu jauh?!”, tuduh Ryou asal dengan pandangan menusuk dan pikiran menyimpang.

PLETAK! [Adegan kekerasan dilarang ditiru!!!]

“ADAAAUUUWW!”, ringis Ryou setelah kerikil sebesar jempol kaki gajah mendarat kasar di bahunya.

“Sorry, barusan tanganku licin!”, ucap Touya sadis.

“Kenapa kau harus melempar batu padaku, hah?! Apa begitu caramu menutupi kenyataan?! Bukankah kau sendiri yang mengakui bahwa kau melakukan sesuatu yang tidak pantas pada Yuri?!”, Ryou mencak-mencak tidak terima ditimpuk batu oleh Touya.

Touya sedikit tersulut, “Mengakui? Benarkah?!”, ucap Touya dengan nada yang tidak menyenangkan.

“Huh? Kau masih berkelit? Aku jadi penasaran sejauh apa perlakuanmu pada Yuri..”, celetuk Ryou.

“Heh! Aku tidak sekotor apa yang kau pikirkan!”, sergah Touya tidak terima.

“Kau sedang mabuk bukan? Tak sadar apapun bisa kau lakukan, bahkan…”, tuduh Ryou dengan nada nakal.

Habis rasanya kesabaran Touya mendengar tuduhan-tuduhan sahabatnya, sejurus ia bangkit. Emosinya tak tertahan, hingga ia tak sadar mengatakan semuanya…

“Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu?! Tanpa sengaja menciumnya pun sudah membuatku merasa sangat bersalah!”

Hening. Ryou menatap Touya yang tengah berdiri tak jauh darinya. Tak lama ia tertawa ringan.

“Ha?! Haha, kau jadi…. mudah dijebak.”, ucap Ryou ringan.

“Aish! Kau sengaja, Hah?!”, tanya Touya dongkol dengan wajah yang semu merah lalu kembali berjongkok di trotoar.

“Hahaha! Kau saja yang bodoh! Memangnya aku menyebutkan apa hingga kau bilang ‘tak sekotor pikiranku?’ kau saja yang sensi. Aku sangat mengenalmu! Aku juga tau kau tidak mungkin sampai melakukan tindakan pencabulan!”, dalih Ryou lalu beberapa saat dia hanya menatap Touya dengan wajah geli dan sesekali tertawa.

“Hahaha..”

“Ryou! Hentikan tawamu itu!”, tukas Touya sensi sambil melempar tatapan ingin membunuh Ryou. Ya, dengan helm yang sudah siap melayang ke arah Ryou.

“Ah? Ha-ha.. kalau begitu.. Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”, tanya Ryou mencoba sedikit mengalihkan, setelah berusaha menghentikan tawanya yang sebenarnya belum kenyang.

“Ha?”, Touya menunjukkan wajah tanda tak mengerti a.k.a lemot.

“Bagaimana sikapmu ke depannya terhadap Yuri setelah ini?”, tanya Ryou lagi sedikit diperjelas.

Deep sigh.

Touya terlihat sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian dia hanya terdiam.

KRIK.. KRIK.. KRIK.. hening -lagi-lagi.

Pertanyaan Ryou sukses membuat keadaan beku lagi, karena sekarang Touya tidak tau harus menjawab apa atas pertanyaan Ryou itu.

Touya malah termangu, pandangannya kosong. Entah berada di mana pikirannya saat itu. Sebenarnya dia masih berusaha mencari jawaban pertanyaan sahabatnya barusan. Tapi yang ada Touya hanya melamun tidak jelas..

BUGH! [Kembali: adegan kekerasan dilarang ditiru!!!]

“AAAAARRGGH?!”, ringis Touya spontan.

Entah sejak kapan helm yang hendak Touya lempar ke Ryou, sudah berpindah tangan dan malah mendarat di tubuh Touya.

“RYOU!!!”, Touya langsung sewot.

“Sorry, tanganku barusan kepleset! Kali ini kita impas!”, ucap Ryou ringan, rasa dendamnya pada Touya sepertinya telah terbalaskan.

“Impas apanya?! Aku hanya melemparmu dengan kerikil kecil tapi kau membalasnya dengan helm sebesar itu!! Tubuhku bisa memar!!!”, Touya misuh-misuh sambil mengusap-ngusap lengannya.

“Siapa suruh kau kutanya malah melamun begitu?? Kelamaan tau!”, cetus Ryou tak mau kalah.

“Siapa suruh kau bertanya seperti itu?!”

“Aish?! Dasar bodoh! Tanpa aku bertanya seperti itu pun, tetap saja kau harus menghadapi Yuri!”

DEGH!

Touya tersentak, emosi ingin main jitak-jitakan lagi dengan Ryou mereda seketika.

“Ehmmm…..Hhhaaaaaaaaahhh~”, lagi-lagi Touya menarik napas panjang.

“Berhenti menarik napas seperti itu, disetiap kali kau harus menjawabku.”, sindir Ryou.

“Aku tidak tau… Mungkin menganggap hari ini tak pernah terjadi akan lebih baik..”

“Hah? Aku hampir tidak mengenalimu sekarang. Aku tidak tau sejak kapan kau terlihat begitu pengecut.”, ucap Ryou menusuk.

Touya mendelik. Kata-kata Ryou cukup mengusik emosi dan batinnya sedari tadi. Tapi Touya sadar, apa yang keluar dari mulut sahabatnya itu kenyataan yang sedang terjadi padanya. Touya sendiri berpikir dia seorang pengecut sekarang ini.

“Aku juga hampir tidak mengenali diriku sendiri..”

“Eh?!”, Ryou terpekik.

Tak lama Touya bangkit. “Mungkin hanya dengan bersikap pengecut seperti ini aku bisa menghadapi Yuri..”

“Hah?! Kau?! Kau tidak memikirkan perasaan Yuri? Bukankah kau bilang merasa bersalah? Kalau begitu kau bisa saja tambah menyakiti gadis cilikmu itu?!!”

Touya diam dan tertunduk sejenak. Tak lama ia kembali menengadahkan wajahnya. “Dari awal aku bertemu dengannya pun aku sudah banyak menyakitinya. Kurasa menyakitinya sedikit lagi saja Yuri bisa melewatinya seperti biasanya..”, ucap Touya dingin sambil memakai helm dan bersiap menaiki motornya.

“Hah?! Touya? kau?!!!”, seru Ryou. Sebenarnya Ryou ingin menceramahi Touya saat itu, tapi Touya keburu memotong kata-katanya.

BRUUUMMM!

Suara motor Touya mulai berderu.

“Ryou terima kasih untuk hari ini, kau sudah berbaik hati mengantar dan mengikuti skenarioku. Andai kau mau jadi teman gayku mungkin akan lebih membantuku!”, ucap Touya sambil tersenyum nakal yang bikin bulu kuduk Ryou merinding disko. Ekspresi wajah Touya yang tadi dingin tiba-tiba berubah sangat manis.

“Haaa? Aaaaa? A, APA?! KAU SUDAH GILA YA?? HAH?!!”, seru Ryou dengan wajah yang kembali memucat.

“Sampai jumpa Ryou-kun!!!”, pamit Touya genit lalu tancap gas meninggalkan Ryou begitu saja.

“AISH!!! KAU KUPECAT JADI SAHABATKU!!!!”

♥☺♥

“Tik tok tik tok tik tok..”, ucapku menirukan suara detik jam sambil menidurkan kepala ke atas meja di ruang tengah. Hal itu sudah kulakukan sejak pulang sekolah, tepatnya sejak 2 jam yang lalu. Benar-benar tak ada kerjaan bukan? Huh! Aku pun tak habis pikir kenapa aku terus melakukan hal itu..

Waktuku selama 2 hari ini sepertinya habis hanya untuk menirukan suara jam. Rasanya waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Sebentar lagi aku harus sudah bertemu dengan Pak tua itu.. padahal, aku merasa seperti baru saja membiarkannya pergi diantar Ryou.. kejadian malam itu, masih terasa begitu jelas diingatanku..

Awalnya aku sering kesal jika tak sengaja harus mengingatnya… Tapi.. aku juga tidak bisa bohong, jantungku selalu berdetak tak karuan jika ingat hal itu.. bagaimana mungkin aku bisa melupakan kalau itu first kissku!!!!

Aish!!! Yuri bodoh! Bodoh! Bodoh!

Aku bisa gila..

“Hufft…”, aku membuang napas. “Ukh… Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?”, ucapku mulai putus asa. Andai aku bisa berbagi rasa stresku. Ukh Karin beritau aku, apa yang harus kulakukan…? tapi, kenyataannya Karin bahkan tak tau sama sekali tentang hal ini…

Aku memejamkan mataku sejenak, berusaha tidur berbantalkan meja yang keras dan dingin. Kupikir meja itu bisa mendinginkan isi kepalaku ini…

TING TONG!

Bel rumahku tiba-tiba berdenting, tidak.. bel itu sebenarnya berdenting sesuai jadwal..

DAG DIG DUG

Denting bel itu seakan memancing dentuman dari jantungku. Hal itu membuatku malas untuk membuka mata.

TING TONG!

Bel itu kembali berbunyi karena belum ada yang membuka pintu untuk si pemencet bel di luar sana. Aku masih enggan untuk membukakan mataku, bahkan sengaja lebih kurapatkan kelopak mataku untuk terus tertutup.

TING TONG!

Ukh! Pergilah!!!, usirku dalam hati.

“Yuri?! Bukakan pintunya!”, suruh ibu yang kini muncul dari dapur.

Mendengar suara ibu, mataku langsung refleks terbuka. “Eh? Iya..”, ucapku akhirnya memaksakan diri untuk beranjak dan membukakan pintu.

“Hemmmmmmph”, aku menarik napas panjang berusaha menyiapkan mentalku untuk membukakan pintu. Perlahan kuputar engkel pintu rumahku…

CEKLEK.

Bingo!

Mahluk itu di hadapanku sekarang.

♥☺♥

Sudah 1 jam lebih bimbingan belajarku hari ini berlangsung, tapi aku atau pun Touya tak banyak bicara. Aku lebih banyak berkutat dengan materi dan soal latihan yang berlimpah dari Touya, sedangkan Touya sendiri terlihat sibuk dengan laptopnya. Begitu sepi dan membosankan.

Rasanya suasana di ruang tengah jadi sedingin kutub. Hah.. tidak.. ini lebih dingin dari kutub. Tapi..bukankah karena global warming kutub sudah lebih hangat sekarang? Hingga mulai mencairkan es-es tebal yang menyelimuti bagian utara dan selatan bumi..

Entah karena aku orang yang bawel bawaan dari orok atau aku benci situasi hening seperti ini, rasanya mulutku gatal ingin mengatakan sesuatu Aku tau, padahal beberapa menit sebelum Touya datang ke rumah aku benar-benar tidak ingin bertemu dengannya hari ini. Tapi, siapa yang tahan dengan suasana hening seperti ini?? Tak salah kan jika aku ingin mencairkan suasana dan ingin mengoceh dengan Touya??, batinku. Kulirik Touya yang tengah terduduk dengan laptopnya itu.

Aish!!! Sebenarnya aku malu sekali untuk melirik wajahnya. Tapi, daripada aku mati kutu karena situasi seperti ini.. Baiklah! aku akan mencoba mencairkan suasana terlebih dulu karena aku yakin Pak tua itu akan bertahan dengan situasi menyebalkan ini.

“Ng.. Pak ikeda..?”, panggilku pada Touya.

Touya menoleh ke arahku.

“Ini, aku mau tanya tentang materi bagian ini. Aku kurang mengerti bisa dijelaskan?”, tanyaku basa basi busuk sambil menunjukkan salah satu halaman materi dari buku.

“Bagian mana yang tidak kau mengerti?”

Beruntung, Touya sigap merespon pertanyaanku dan langsung menjelaskan materi yang kutanyakan. Langkah pertama basa basi sudah kulancarkan dengan baik, proses pencairan dimulai!

Oh Gosh..

Sayangnya Touya kembali menutup mulutnya setelah selesai menjelaskan materi. Dan otomatis keadaan kembali seperti semula, HENING. Sepertinya aku harus berusaha lebih keras untuk membuatnya lebih banyak berbicara sekarang ini. Jadilah aku, 5 menit sekali terus bertanya tentang materi pada Touya.

Tapi… lama kelamaan aku malah bosan sendiri jika harus menanyakan hal yang sebenarnya tidak ingin aku tanyakan. Dan jujur, jawaban atau penjelasan yang Touya berikan malah membuatku mengantuk. Tidak memperbaiki keadaan sama sekali, malah makin buruk dan terasa kaku.

“Jadi ini bla bla bla bla…”, jelas Touya yang tak kudengar dengan baik.

“HOOOOAAAAMMMMM..”, yang ada aku malah menguap lebar sampai mulutku menganga lebih lebar dari mbahnya kuda nil. Siapa suruh dia menjelaskan panjang lebar seperti guru lansia?

Touya menyadari uapan mautku yang bisa melahap 50 lalat sekaligus. “Kau mendengarkan aku tidak??”, tanya Touya dengan nada sedikit bete.

“Ng?? Aku dengar kok..”, jawabku asal.

“Jika kau benar-benar mendengarkan aku, kau tinggal mengerjakan soal-soal itu sekarang!”, perintah Touya dengan wajah yang mulai kesal.

Melihat raut wajah Touya yang seperti itu, entah kenapa membuatku ikut kesal.

“Kau terlihat menyebalkan lagi!”, cetusku.

Touya mendelik.

“Baiklah, aku akan kerjakan soal-soal itu. setelah aku bertanya satu hal lagi padamu.”

“Aku tidak akan akan menjawab pertanyaan yang tidak penting!”, ucap Touya sinis.

Deg.

Hah, kata-kata yang selalu ia katakan ketika mulai menghindari setiap pertanyaanku.

“Apa kau ingat apa yang kau lakukan saat mabuk terakhir kali di sini?”, tanyaku dengan volume yang jelas. Touya terdiam mendengar pertanyaanku.

Ruangan itu seketika hening lagi. Dan sampai beberapa saat, Touya tak juga menjawabku.

“Kenapa kau diam?? Apa kau terdiam karena ingat  semua yang telah kau lakukan??”, ucapku memojokkan Touya.

Touya memandangku dingin lalu berkata, “Aku rasa memang tak ada hal perlu kujawab.”

“Benarkah? Jadi menurutmu pertanyaanku barusan tidak penting?? Padahal jawabanmu itu sederhana saja, tinggal bilang ingat atau tidak.”, ucapku.

“Aku tidak ingat sama sekali. Dan jangan paksa aku untuk mengingatnya.”, jawabnya kali ini tetap dengan nada datarnya.

Aku terdiam.

“Aku sudah menjawab pertanyaanmu bukan? Sekarang kau kerjakan soal-soal itu!”, cetus Touya kemudian.

Hah… dia benar-benar menghindari pertanyaanku. Rasanya ingin aku mengatakan apa yang terjadi saat itu atau marah-marah padanya sekarang ini, tapi hal itu hanya akan membuatku terlihat tambah bodoh saja.

Tapi membiarkanku memikirkan hal ini terus menerus sendiri juga terasa menyiksa. Mungkin.. harus kukatakan..

“Hah! Aku tidak tahan lagi! Bagaimana aku bisa menyembunyikan pernyataanmu tentang hubungan specialmu dengan Ryou?!”, ucapku lantang.

“Pernyataan yang mana maksudmu?”, ucap Touya cepat.

“Yaa.. pernyataan saat kau mabuk! Kau mana mungkin ingat?”

“Saat aku mabuk? Yang benar saja?! Bukankah saat itu sudah kukatakan Ryou itu hanya sahabatku?! Apa kau masih berpikir aku bukan cowok normal hah?!”, bantah Touya keras.

DEG.

Mendengar kata-katanya barusan, kurasa dia ingat sesuatu. Segaris aku tersenyum kecut.“Memang kalian bersahabat bukan? Kau pikir hubungan special seperti apa yang kubicarakan?”, tanyaku kemudian.

Touya terdiam, terlihat jelas otot mukanya menegang.

“Haha.. Tentu saja Pak Ikeda itu seorang cowok normal. Bukankah Pak Ikeda sendiri yang telah membuktikannya padaku?”, ucapku berbumbu tawa hambar.

Touya semakin terdiam. Melihat sikap Touya, membuatku hanya bisa ikut terdiam.

Hah.. Pak tua itu benar-benar keterlaluan. Jelas-jelas dia ingat semuanya, tapi kenapa dia harus berbohong padaku? Aku benar-benar tidak habis pikir padanya sekarang ini. Dadaku benar-benar sesak melihat sikapnya.

Tes..

Yuri bodoh.. kutub itu memang sudah seharusnya tidak mencair.. harusnya aku tidak berusaha mencairkan kutub.. Dan seharusnya aku memang tidak bertanya tentang kejadian itu.. Harusnya aku tau, mencairkan kutub di depanku ini hanya akan melelehkan air mataku saja.. Yuri bodoh..

Aku tidak tahan lagi..

“Aku sudah mengerjakan semua soal latihan itu.”, ucapku dengan suara parau lalu menyerahkan kertas soal latihan yang sebenarnya sudah kuselesaikan sebelum kuminta ia jelaskan. “Aku sudah menyelesaikan tugasku, jadi tugasmu hari ini juga sudah selesai! Maaf kurasa Pak Ikeda sudah bisa meninggalkan tempat ini.”, usirku pada Touya.

♥☺♥

“Karin! Pulang yuk!”, ajakku semangat.

“Eh? Pulang?”, ucap Karin kikuk.

“Iya, kita pulang. Memang mau sampai kapan kita terus di sekolah? Kau tidak akan pulang apa??”, kataku heran.

“Eh.. hehe, iya aku mau pulang juga kok..”, ucap Karin yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu padaku tapi tak sempat karena keburu kupotong.

“Kalau gitu, ayo kita pulang! Aku lagi suntuk nih, sekalian main-main dulu yuk!!”, ajakku lagi sambil menyeret Karin tanpa ampun.

“Eh, eh, eh.. tunggu Yuri, sebenarnya hari ini aku udah ada janji. Ng… jadi kau pulang duluan saja ya??”, ucap Karin terdengar sedikit tidak enak padaku.

“Hah? Begitu ya?”, ucapku dengan nada kecewa.

Huh.

Kumat deh bibir manyunku.

“Duh Yuri, sorry banget ya??? Ga apa-apa kan hari ini pulang sendiri??”

Aku terdiam dengan bibir manyunku.

“Jangan manyun gitu dong. I’m sorry, sistah!!”, rayu Karin sambil nyubit-nyubit pipi teposku.

Aku langsung menepis cubitan Karin, “Akh! Ga usah so English atau British gitu, ga cocok!”, omelku.

“Please sweety, don’t angry to me..”, rayu Karin lagi pakai bahasa inggris yang tambah bobrok.

“Kariiiiiiiin! Jangan buat aku mual dengan bahasa inggris ala kadarmu itu! ya sudah aku bisa pulang sendiri kok!”, usirku.

“Ya sudah.. tapi jangan ngambek atau manyun lagi ya??”, bujuk Karin lagi.

“Iya! Pergilah!”, usirku lagi.

“Idih, galaknya. Yuri aja yang pulang duluan, aku memang nunggu dijemput kok.”, kata Karin balik ngusir dan bikin aku tambah gondok aja.

“Ukh! Aku pulang! Awas kalau besok kau ngajak pulang bareng aku!!”, pamitku dengan narsisnya.

“Tidak masalah, aku minta jemput pacarku lagi saja.”, ucap Karin ringan.

“KARIIIIIIIIINNNNN!!!!!!!!”, teriakku gemas.

“Hahahaha!”, tawa renyah Karin pecah mendengar teriakanku, mungkin saking merdunya.

“Aku hanya bercanda, aku janji deh besok kita pulang bareng dan main-main sepuasnya di mal!”, rayu Karin kemudian.

“Terserah deh!”, ucapku so acuh dan akhirnya benar-benar pergi duluan meninggalkan Karin untuk meniti jalan pulang sendiri.

“Huh….”, aku membuang napas. Sekarang aku benar-benar sendiri. Aku malas langsung pulang ke rumah. Suasana hatiku masih ga karuan gara-gara kemarin. Meski hari ini ga ada jadwal les dengan Pak tua sialan nan biadab itu, aku tetap enggan untuk pulang ke rumah.

“Hm…. sebaiknya aku ke mana yaaa??”, gumamku lalu berpikir sejenak. Karena suasana hatiku sedang kacau… aku butuh tempat yang tenang untuk menenangkan diri. Ya, tempat yang tenang…

Sebuah tempat tiba-tiba terbayang di benakku.

“Mungkin tempat itu bagus!”, seruku sibuk sendiri.

Aku pun tanpa pikir panjang lagi langsung menuju tempat yang terpikir olehku barusan.

Sekitar 30 menit kemudian~~~

“HUAAAAAH!! AKHIRNYA SAMPAI JUGA!!!”, teriakku excited ala mbah tarzan sesampainya di tempat tujuan.

Kota Tokyo seperti terhampar indah di depan mataku sekarang ini. Karena saat ini belum begitu sore, sunset yang biasa tersaji indah di sini pun belum nampak. Ya, sekarang aku sudah berada di ujung bukit yang pernah Touya tunjukkan padaku dulu. Entah kenapa hanya tempat ini yang terpikirkan olehku untuk menenangkan diri. Dan sepertinya aku tak salah pilih tempat.

Aku mendaratkan tubuhku di atas guguran daun, lalu bersandar dengan nyaman di batang pohon besar yang daunnya hampir habis itu. Matahari tertutup awan-awan kelabu, sehingga cahayanya tidak garang memanggangku. Angin yang berhembus cukup sejuk di tempat ini. Suasana tempat ini benar-benar tenang dan membuatku nyaman… tanganku pun mulai merogoh isi tasku, aku mengeluarkan ponselku beserta haedsetnya.

“Ukh, aku lupa tidak membawa MP3 playerku.. kepaksa deh dengerin musik yang ada di ponsel aja..”, gerutuku.

Kupasangkan sepasang headset itu ke sepasang telingaku, lalu aku mulai menyetel musik dari ponselku. Suara musik dari ponselku mulai mengalun di telingaku. Semilir angin sejuk di bukit ini serasa membelai pipiku lembut. Suasananya membuatku bertambah nyaman dan betah saja.

“Hmmmmm…”

Mataku perlahan terpejam untuk menikmati suasana yang damai ini. Aku terlalu menikmatinya, sampai akhirnya aku benar-benar terlelap di dalamnya….

♥☺♥

SYUUUUUUTT~~~

“Brrrrrr… hiiiiiiiiiyyy…. di, dingiiiiiin!”, ucapku gemetaran dengan keadaan mata merem a.k.a setengah tidur!. Lalu tanganku meraba-raba alam sekitar berharap menemukan selimut hangat untuk menutupi tubuhku.

SYUUUUUUTTT~~~~

Angin yang berhembus makin bringas saja.

“Hiiiiiiiiiiyyyy! Anginnya kok makin kenceng sih??? Dingiiiiiiiiin!!!!”, gerutuku dan tanganku makin jelalatan nyari benda yang namanya selimut sedangkan mataku pun masih ogah melek. Tapi…

SREK, SREKK

Kok permukaan yang kusentuh kasar dan kotor sih??

GLEK!

Mataku kini terbuka lebar seketika. Aku melihat alam sekitarku cepat. Ng.. gelap. Loh? Kok hanya ada daun-daun kering? Aku coba melihat lebih jelas lagi dan tasku yang tergeletak tak beraturan seperti posisi tidurku yang tak kalah brutal.

“Di.. di mana aku?”, ucapku linglung.

KRIK KRIK KRIK

Sayang hanya suara merdu mbah jangkrik yang nyaut pertanyaanku.

Aku pun bangkit dan mencoba untuk duduk, lalu melihat lagi alam sekitar. Beberapa detik aku cengo. Ah.. nyawaku belum terkumpul sepenuhnya..

TIK TOK TIK TOK..

“KYYYYYYYYAAAAAAAAAAAAAAAAH!!!!!!!!!”, jeritku nyaring dan membuat para penghuni hutan lari terbirit-birit gara-gara mendengar teriakan super cemprengku.

“Jam berapa ini?! Kenapa aku bisa ada di sini?!”, ucapku panik ga karuan sambil mencari-cari benda elektronik kesayangan

Akhirnya kutemukan ponselku di balik tumpukan daun-daun kering dalam keadaan headset yang nancep dan melilit-lilit ponsel. Melihat keadaan naas ponselku ingatanku mulai jernih.

Ya! Aku baru ingat!!! Kenapa aku bisa ada di tempat ini sekarang!. Aku datang  ke ujung bukit ini sepulang sekolah untuk menenangkan diri, lalu aku mendengarkan musik lewat ponselku hingga akhirnya.. akhirnyaaa… aku tidak ingat lagi…. Sepertinya aku ketiduran.. benar-benar ketiduran sampai hari sudah segelap ini.

Bodoh!

“Bagaimana ini? Gimana aku bisa pulang??”, gumamku kebingungan. “Oh iya! Ponselku!!”, seruku. Aku kembali melihat ponselku yang sempat terlupakan karena harus me-review ingatanku terlebih dahulu. Ponselku dalam keadaan mati, aku coba menghidupkan ponselku sambil berkomat-kamit semoga ponselku bisa hidup dan…

JENGJENGJRENG!!!

NYALA!

Hanya persekian detik kemudian..

Pssshhh..

Asap mengepul dari ponselku. Tanpa basa basi busuk lagi, dengan tega niannya ponselku langsung ‘see you bye bye’ a.k.a MATI TOTAL..

“Ti… TIDAAAAAAAAAAAAAAAKKKK!!!!”, teriakku lagi yang seketika ini langsung frustasi. Dengan brutal aku memencet semua tombol di ponselku, berharap ada kekonsletan yang membuat ponselku bisa hidup lagi. Tapi percuma, ponselku sudah tak tertolong lagi…

KRIK KRIK KRIK

Aku terdiam, cengo, frustasi. Hening. Benar-benar hanya ada suara merdu mbah jangkrik yang mengiringi keterpurukanku.

“Yuri berpikirlah!!!”, gumamku berusaha berpikir ala Jimmy Neutron.

Setelah beberapa saat aku berpikir keras, akhirnya kuputuskan.. Aku akan pulang dan menerobos gelapnya malam!!! Lagi pula aku tidak mau membuat ibu dan ayahku kena serangan jantung gara-gara mencemaskan putri imutnya ini! Untungnya malam ini cukup cerah, semoga cahaya bulan bisa menuntunku pulang. “Hmp! Cuma mengikuti jalan setapak aja!!”, ucapku ‘mencoba’ menganggap enteng.

Aku langsung membereskan tasku dan beranjak dari ujung bukit. Sekilas aku melirik ke cahaya terang di depan sana..

“KEEERRREEEEEENNNN!!!”, teriakku norak saking takjubnya sama pemandangan kota Tokyo dari atas bukit yang very amazing.

“YURIIII!!! BUKAN SAATNYA TAKJUB-TAKJUB NORAK!!!!!”, kataku berusaha menyadarkan diri sambil geleng-geleng brutal. Huh! Pemandangan itu hampir saja membuat air liurku menetes saking excited-nya!

“Rumah! Tunggulah aku!!!”, ucapku berusaha meluruskan pikiranku. Lalu tanpa merasa ragu lagi aku memantapkan langkahku menembus gelapnya malam.

Sekitar 30 menit kemudian di dalam hutan—

Keteguhan dan kemantapan langkahku sebelumnya, lenyap sudah. Aku sudah kehilangan arah di tengah jalan. Jalan setapak yang sebelumnya kuikuti entah sejak kapan sudah berubah jadi semak-semak. Aku tidak tau sekarang aku ada di mana. Tidak.. tidak.. aku tidak mau mengakuinya tapi..

AKU KESASAR DI TENGAH HUTAN MALAM-MALAM!!!

Aku berusaha mencari sesuatu yang menjadi petunjuk jalan untuk pulang. Tapi sejauh mataku memandang yang kulihat hanya gelapnya malam dan pohon-pohon besar yang hampir tak berdaun tinggi menjulang. Seperti tinggal kerangka pohonnya saja, ranting-ranting yang menggantung itu seakan ingin mencengkramku. Belum lagi suara-suara binatang malam yang membuatku terus bergidik.

Aku berjalan lunglai, kaki terlalu lemas untuk digerakkan terus. Aku sudah berputar-putar, kakiku sudah tak kuat lagi. Angin malam penghujung musim gugur pun tak henti berusaha merobohkan tubuhku.

GEDEBRUK!!

“AUWWWWW!!!”, ringisku kesakitan.

Aku yang mulai kehabisan tenaga ini berjalan kurang hati-hati hingga akhirnya kakiku kesrimpet akar pohon yang menjalar. Sepertinya aku terjatuh cukup keras, karena aku merasakan rasa sakit yang lumayan di lutut kananku.

“Uuuuukh, berdarah…”, keluhku lemas.

Aku mencoba bangkit untuk kembali mencari jalan pulang, tapi tubuhku ga bisa singkron dengan keinginanku. Tubuhku sudah kelelahan, aku tidak kuat untuk bangkit. Akhirnya aku terpaksa mengistirahatkan tubuhku sejenak dengan duduk di tempat aku terjatuh.

Suasana benar-benar hening, sepi, sunyi senyap kek di kuburan. Aku putus asa..

“Huuuuuuuuh… Aku ingin pulang..”, rengekku.

Aku terdiam sejenak.

SYUUUUUUUUUUUUUUUTTTTHHHHHHHH~~~

Dengan sadis, angin berhembus dan menusuk setiap pori-pori kulit hingga menembus sumsum tulangku. Tanpa ada angin seperti itu pun, suhu malam ini sudah cukup membuatku kedinginan.

“Diiiiingiiiiiiiiii~~~nnn banget!”, keluhku sambil memeluk tubuhku sendiri. Sesekali aku mengedarkan pandanganku berharap menemukan keajaiban atau mukjizat. Tapi, nihil. Yang terlihat hanya pohon-pohon dan kegelapan yang seakan siap menelanku hidup-hidup. Aku takut.. benar-benar takut.. Di sini terlalu dingin dan gelap..

KRUYUUUUUK~

“Lapar..”, ucapku lirih.

Tess..

“Hiks… Huhuuuhuuhhuuuu… HUWEEEEEEEEE!!!!!!”, tangisku meledak tanpa aba-aba.

“Aku takut!!!!! Aku ingin pulang!!!!! Hhhuuuhuhuhuu hiks.. AAAAAAAAAAAAAKHH!!!!”, teriakku histeris. Sekarang aku tidak tau apa lagi yang harus kulakukan. Karena semua jalan terasa sudah buntu bagiku, aku benar-benar putus asa…

“Aku mohon.. hiks.. seseorang temukan aku! Hhuhuhuu hiks..”, rengekku seperti anak kecil.

“Ibuuuuu… jangan biarkan putri manismu ini mati muda karena ketakutan dan kelaparan hiks.. apalagi jika sampai aku mati mengenaskan di tengah hutan seperti ini lalu… hikss… lalu aku tidak temukan?! Hiks… ibuuu aku tidak mau sampai gentayangan di hutan ini karena tewas tanpa ditemukan!! Hiks.. hhhhuuuhhhuhhuhhuuuweee!!!!!”, aku meracau kacau sambil menangis sesenggukan karena frustasi akut hingga parno ga karuan.

SREKK!!

Tangisanku terjeda beberapa saat karena mendengar suara semak-semak yang bergoyang. Aku merinding mendengar suara itu, namun aku berusaha tidak menghiraukannya. Meski pada kenyataannya ketakutanku makin menjadi. Kupikir lebih baik aku meracau ga jelas lagi saja daripada memikirkan suara itu.

“Hiks… aku ingin pulaaaang!!!!!”, rengekku nyaring.

SREKKK! SREEEEKKK!!!!! SRREEEEKKK!!!!

Suara itu malah terdengar lagi, bahkan terdengar lebih ricuh dan menyeramkan dari sebelumnya. “Apa itu?!”, seruku refleks lalu meraih potongan ranting pohon sambil berusaha bangkit. Dan mataku siap siaga berputar ke segala arah. Belum sempat aku menoleh ke belakang..

DEGH!

Sesuatu telah menyentuh bahuku!

“a…GYYYYYYYYAAAAAAAAAAAAAAAAHHHH!!!!!!!”

♥☺♥

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s