Teach Me [Bab 6]

Bab 6

Jam 5 kurang 5 menit. Hari ini Touya belum juga datang memenuhi jadwal membimbingku. Aku bosan sendirian di rumah. Karena kebetulan, ibu harus menginap selama semalam di rumah sakit karena diminta menunggui bibi Chiya yang baru melahirkan. Ibu tidak bisa mengajakku karena ibu pikir akan mengganggu sekolahku besok. Sementara ayah, sekarang ini sedang sibuk-sibuknya di kampus. Ayah bilang ia akan pulang larut malam. Aku sudah terbiasa,  jika ayah bilang pulang larut malam maka ia setidaknya paling cepat ia pulang jam 11 sampai 12 malam.

TING TONG

Suara bel rumahku berdenting. Aku segera menyimpan remote tvku, lalu langsung membukakan pintu.

CEKLEK.

Seorang cowok berpostur tubuh yang tinggi dan membawa tas ransel kini berdiri di hadapanku. Ya, seseorang yang kupikir akan meliburkan jadwal lesku hari ini.

Sedikit berbeda darinya.. wajahnya sedikit kusut dan mengguratkan garis tanda kelelahan, mungkin karena ia sibuk belakangan ini.

“Maaf aku terlambat..”, ucap Touya.

Aku mencoba menyambut kedatangannya dengan senyuman hangat. Entah kenapa saat ini rasanya aku sangat ingin tersenyum padanya. Mungkin aku tidak tega melihat kondisinya yang terlihat kelelahan seperti itu.

“Hm.. Untuk kali ini tak apa. Ayo masuk!”, ajakku. Dan Touya itu menurut.

Sesampainya di ruang tengah, Touya mengeluarkan isi dari tas ranselnya. Sementara aku pergi ke kamarku untuk membawa buku catatan lesku.

“Kau kenapa? Wajahmu terlihat kusut?”, tanyaku sekembalinya ke ruang tengah.

“Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit kelelahan.”, jawabnya sambil memegangi tengkuknya yang terlihat pegal.

Aku tidak banyak bertanya lagi pada Touya. Kami langsung memulai les bimbinganku.

Tak terasa jarum jam sudah mentok di angka 7 lebih 5 menit. Selama itu aku memperhatikan Touya menjelaskan. Tepatnya sih, aku hanya memandangi wajah Touya yang makin lusuh itu.

“Hmm.. sudah dua jam, jam lesmu hari ini sudah berakhir. Hmm… ngomong-ngomong kenapa rumahmu sepi?? Ibumu ke mana?”, tanya Touya setelah menutup bimbingan lesnya hari ini.

“Ibuku sedang menginap di rumah sakit menunggui bibiku.”, jawabku.

“Oh.. pantas saja…”, ucap Touya setengah berdesis.

“Pantas saja kenapa?”, tanyaku heran.

“Ah tidak..”, jawab Touya seperti enggan.

“Kenapa tidak?”, tanyaku lagi.

“Pantas saja orang yang di hadapanku tak punya kesadaran standar dalam menerima tamu.”, cetus Touya.

“Eh? Kenapa kau berkata seperti itu?!”, tanyaku lemot.

“Aku haus.”, ucap Touya singkat.

“Eh?!”, aku terpekik.

Aku baru mengerti maksud perkataan Touya sekarang. “Ng.. aku lupa.. Mau minum apa?”, tanyaku baru menawarkan minum pada Touya setelah 2 jam bertamu ke rumahku.

“Cih, tuan rumah macam apa kau ini? Berbeda sekali dengan kedua orang tuamu..”, Touya sedikit ngedumel.

Alisku mengkerut mendengar dumelan Touya. “Ish?! Aku kan hanya lupa! Lagi pula mana ada tamu yang sepertimu? Masa bersikap tak tau malu seperti itu?”, ucapku tak mau kalah.

“Sudah jelas kau yang salah..”, gerutu Touya sambil memalingkan wajahnya yang kusut.

Kenapa dia mendadak menyebalkan seperti ini lagi? Ish! Sebenarnya aku gemas ingin membalas kata-kata Touya, tapi melihat kondisinya yang terlihat kelelahan itu membuatku jadi sedikit tidak tega padanya..

“Tunggu! Aku akan bawakanmu minuman dulu!”, ucapku ketus dan bergegas ke dapur untuk mencari minuman dingin di kulkas.

Mataku jelalatan mencari sesuatu dalam kotak ajaib yang dingin itu. Yang kutemukan hanya 2 minuman kaleng berwarna orange, sepertinya itu jus rasa jeruk. Kusikat saja kedua minuman kaleng itu. Lalu mengambil beberapa kue yang ada.

“Ini! Aku berbaik hati membawakan sedikit makanan.”, kataku mempersilakan dengan nada gengsi, lalu duduk di sofa.

“Haha.. Meski telat, tapi kuucapkan terimakasih gadis cilik!”, ucap Touya sambil tertawa kecil dan mulai mengacak-acak rambutku.

DEG.

Jantungku mulai berdentum lagi rasanya, sikap Touya terasa makin hangat. Aku semakin merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatiku.

“Huh! Baru saja kau menggerutu.. tapi kini kau sudah tertawa dengan ringan seperti itu hanya karena sudah kusuguhi minum.”, gerutuku.

Touya meminum minuman kaleng yang kuberikan dengan ganas, isinya langsung habis. “Habis rasanya tenggorokkanku kering sekali. Dari siang aku belum minum…”, ucap Touya terlihat lebih baik setelah ia minum.

“Ng, sepertinya kau sibuk sekali..”

“Yuri, minuman apa sih yang kau berikan padaku? Rasanya sedikit aneh?”, tanya Touya kemudian.

“Meskipun rasanya aneh tapi langsung kau habiskan juga bukan?”, ucapku menyindir.

“Itu karena aku kelewat haus..”, ucap Touya ngeles dan terlihat sedikit memegangi kepalanya.

Ada yang aneh.. wajah Touya jadi memerah, ia terlihat memegangi kepalanya terus seperti orang yang sedang adzan *eh ga ding :p menahan rasa pusing.

“Touya, ada apa denganmu??”, tanyaku jadi cemas.

“Haaaah? Tidak kok.. hanya agak pusing.. sebentar juga hilang..”, ucap Touya dengan nada yang lambat.

“Kau bohong! Wajahmu memerah seperti itu! Touya kau kenapa???”, tanyaku lagi.

“Hah~? Wajahku memerah?? Oh ya?? Mungkin karena aku baru direbus.. panas..”, jawab Touya terdengar ngelantur.

Aku jadi merasa aneh dengan sikap Touya. Tumben ia mau menjawab saat aku panggil nama depannya? Biasanya dia akan marah atau sinis padaku. Jawabannya juga terdengar konyol? Sepertinya ada yang tidak beres.., gumamku dalam hati, lalu melirik 1 jatah minuman kaleng yang tersisa di meja.

Tiba-tiba aku jadi curiga dan penasaran dengan minuman kaleng itu. Segera kulihat tulisan yang tertera di kaleng itu, karena aku sebelumnya tidak melihatnya terlebih dahulu.

JEEEGGGGGEEEEERRRRRR!!!!!!

Kepalaku serasa dihantam pesawat jet.

Isi tulisan yang kubaca sekarang ternyata..

*NAMA MERK* bla bla bla Sake buah rasa jeruk mengandung alkohol sekitar 0, 0 berapaaaa persen gitu…

GLEK!

Gawat.

Aku melirik Touya di sebelahku. Wajahnya benar-benar terlihat merah. Tingkahnya mulai terlihat tambah aneh tidak karuan. Ya ampun!!! Touya sekarang mabuk!!!

Apa yang harus kulakukan??? Aku mulai panik.

“Kau kenapa sih?? Aneh sekali… hm… rumahmu sepi yaaaa….”, Touya ngoceh ngelantur.

“Ba, bagaimana ini?! Touya sepertinya kau mabuk..”, ucapku dengan nada ngeri.

“Haaah? Kau bilang apa barusan? Aku mabuk? Hahaha.. aku mabuk…”, katanya dengan logat teler, makin buatku tambah panik saja.

“Sebaiknya kau pulang!”, ucapku malah mengusirnya.

“Sepertinya kau yang mabuk… dasar bodoh bagaimana aku bisa mengendarai motorku jika aku mabuk…”, kata Touya terdengar sedikit waras.

“Benar juga… cuci muka sana!!!”, suruhku.

“Cuci muka?? Ng… baiklah..”, ucap Touya lalu beranjak dari sofa. Ia berjalan dengan sempoyongan ke arah dapur.

Tak lama ia kembali, tapi kulihat wajah atau kepalanya tidak basah sama sekali.

“Ng… kamar mandinya ada di mana???”, tanya Touya polos.

“Apa?!”, ucapku kaget. “Dasar bodoh!!”, kataku gemas lalu kudorong Touya menuju kamar mandi. Lalu kutinggalkan lagi ke ruang tengah.

Touya kembali lagi. Tapi wajah dan kepalanya tetap saja tidak terlihat basah juga.

“Touya, kau itu sudah cuci muka belum?!”, tanyaku memastikan.

“Haaa? Jadi tadi kau menyuruhku cuci muka?? Hm… hehehe..”, Touya malah nyengir cengengesan. Aku mengkeret ngeri.

“Kau pikir aku menyuruhmu apa barusan? Dan kenapa kau malah nyengir cengengesan seperti itu?!”, ucapku was-was.

“Aku barusan cuci kaki…”, jawabnya datar.

“Hah?! Yang benar saja?!”

♥☺♥

Setengah 8 malam, aku masih bingung apa yang harus kulakukan pada Touya sekarang ini. Sementara tanganku standby memegang sapu ijuk nan buluk, takut-takut Touya tiba-tiba melakukan hal yang tidak senonoh padaku, setidaknya aku bisa melindungi diriku, pikirku jaga-jaga .

Touya sendiri terlihat hanya ngomong ngelantur di sofa sebelahku. Ruang tengah pun sepi, hanya ocehan Touya yang terdengar.

Aku memandangi Touya yang lagi mabuk itu, dengan tatapan menuduh. Aku heran, kenapa ia tidak tertidur sih? Kok dia juga tidak sadar kalau yang dia minum itu sake? *kan Yuri yang kasih?!

Hauuuuh… tapi Touya minum sake juga karena aku yang berikan. Aku kan tidak tau kalau itu sake.. hmm.. sebenarnya Touya tidak salah apa-apa dalam hal ini. Aku jadi merasa bersalah sekarang. Melihat kondisi Touya yang mabuk seperti itu aku jadi iba. Ini semua salahku.

“Touya…”, panggilku.

“Apa?”, sahutnya dengan logat khas orang mabuk.

“Maafkan aku.. Gara-gara aku kau jadi mabuk seperti ini.. aku tidak tau kalau minuman yang kuberikan itu sake buah…”, ucapku penuh penyesalan.

“Hmm.. aku mengerti..”, Touya manggut-manggut. “Aku tau kok.. kau kan memang gadis cilik yang ceroboh.”, ucap Touya ringan.

Aku agak dongkol dengan kata-kata Touya, tapi aku harus memaklumi itu. Touya sedang mabuk, jangan heran ia bicara seenaknya. Ah jika Touya tidak mabuk pun dia suka berkata seenaknya padaku.

Aku jadi terpikir akan sesuatu. Bukankah orang yang sedang mabuk itu akan selalu berkata jujur jika ditanya? Hmm.. mungkin aku bisa pastikan sekarang!

“Touya, apa kau pernah menganggapku sebagai seorang cewek??”, tanyaku.

“Dasar bodoh.. kau itu kan memang cewek..”, jawab Touya asal jeplak.

Ish?! Sepertinya akan sedikit sulit untuk aku mengorek info, setelah mendengar jawabannya tadi.

“Ng.. sebenarnya ada yang ingin kutanyakan.. Ryou itu siapamu?”, pertanyaan pokok mulai dilancarkan.

“Dia.. sahabatku..”, jawab Touya sekenanya.

Aku masih belum yakin. “Benarkah? Tapi aku rasa hubunganmu dengan Ryou itu sedikit terlihat aneh. Buktinya kau memberi Ryou bunga.”

“Apa kau juga ingin aku belikan bunga?”, tanya Touya ga nyambung.

Anehnya pertanyaan Touya malah membuatku salah tingkah. “Maksudku bukan seperti itu!! Maksudku kan aneh cowok ngasih karangan bunga ke seorang cowok?? Setiap orang juga akan berpikir kalau kau seperti orang yang suka sesama jenis jika memberikan bunga terhadap sesama jenis!”, ucapku terang-terangan.

Touya terdiam.

Eh? Apa dia tersinggung? Aduh!!! Mulutku ini mudah sekali keceplosan.

“Kau ini bodoh.. aku ini masih normal..”, ucapnya akhirnya menanggapi kata-kataku.

“Apa buktinya??”, tanyaku masih belum puas.

Dibandingkan denganmu, aku pernah pacaran dengan lawan jenisku.”

“Kan hanya pernah! Seperti yang kau bilang cewek itu juga mengkhianatimu bukan?! Bukankah itu jadi alasan cukup logis jika kau jadi seorang gay??”, kataku malah makin terang-terangan, karena aku juga sedikit tak terima dengan kata-kata Touya.

Touya berpindah duduk jadi di dekatku. Sapu ijuk nan buluk siap siaga untuk menghantam Touya jika dia berani menyentuhku.

“Kenapa kau pindah duduk di sini?! Kembali ke tempatmu!!!”, kataku tambah was-was.

“Kalau kau masih berpikir seorang gay, kenapa harus takut aku ada di dekatmu?”, tanya Touya kemudian.

“Hiiiy, mau normal atau tidak kau tetap membuatku ngeri!!!”, kataku beralasan.

“Baiklaaaahh, aku beritau padamu yaaa.. Aku sedang menyukai seorang cewek sekarang ini. Lagi pula karangan bunga itu aku berikan pada Ryou karena akan ia berikan lagi pada seorang cewek. Aku jamin aku normal!”, ucap Touya sambil menepuk-nepuk dadanya seperti orang bodoh.

DEG.

Dia bilang sedang menyukai seorang cewek? Kenapa hatiku terasa sedikit sakit? Ng.. bukankah bagus jika dia menyukai seorang cewek, berarti dia benar-benar normal. Yuri!!!!! Sebenarnya apa yang kupikirkan sekarang ini?!

“Memang cewek itu siapa?”, pertanyaan itu tiba-tiba meluncur tanpa kusadari.

“Yang jelas rahasia… cewek itu… cewek yang selalu membuatku ingin melindunginya….”, tutur Touya sedikit ngelantur. Meski begitu, ekspresi wajahnya saat membicarakan cewek yang dia sukai, terlihat sekali dia begitu menyukai cewek itu. Tak ada kebohongan yang kurasakan saat di berkata seperti itu.

Aku termangu.

“Hoooooaaaaammmmph!”, Touya menguap lebar persis kuda nil -haha. Dia benar-benar terlihat mengantuk. Mungkin pengaruh dari sake juga.

Aku masih termangu, kata-kata Touya tentang cewek yang disukainya itu menggerogoti otakku.

“Hoii.. hm.. gaaaaadis ciliiiik…”, ucap Touya berusaha menyadarkanku dari lamunanku, sambil melambai-lambaikan tangannya pelan di depan wajahku. Kondisi Touya makin parah saja.

Aku hanya memalingkan wajahku dingin.

“Jangan bilaaang kau itu… masih tidak percaya padaku?? Atau kau perlu bukti??”, ucap Touya lagi.

Aku tidak bergeming mendengar ocehan Touya. aku malas meladeninya kali ini.

Touya terlihat mulai dongkol dengan sikap cuekku padanya. “Haummmp!”, Touya terlihat mengambil napas, dia menahan napasnya sehingga menggembungkan kedua pipinya.

PLOK!

Tiba-tiba tangan Touya namplok di bahuku. Dia menyentuhku?! Awas saja kau!!!!!, pikirku murka. Refleks aku memutar kepalaku untuk menoleh ke arah Touya untuk memakinya. Tapi, tanpa kusadari ternyata radius wajahku dan Touya sudah melewati garis kuning polisi!

Begitu aku menoleh…

OOOOPS!!! *

Sesuatu hal membuatku refleks menutup kedua mataku. Aku merasa ada bibir lain telah menabrak bibirku, belum selesai sampai di situ..

BUSSSSSSSHHH!!!

Udara berhembus ke mulutku dengan brutal dan sukses membuatku tersedak. Udara yang masuk itu terasa tidak enak sekali, mungkin ini yang namanya rasa sake!!! *adegan dilarang ditiru untuk orang yang berumur 100tahun ke bawah!

“Uhuk..KYAAAAAAAAAAA!!! JIJAYYY!!!”, teriakku histeris.

DZIIIIIGH!!!!

Langsung kutonjok tubuh Touya yang sudah lemas itu, tanpa ampun.

GABRUKH!

Tubuhnya terjungkal dari sofa dengan naas.

“APA YANG BARUSAN KAU LAKUKAN PADAKU HAH?! BOSAN HIDUP YA?? KAU MAU AKU JADIKAN SATE ATAU BARBEQUE ORANG ATAU DIKULITI SEPERTI KAMBING GULING?!!!!!”, aku mencak-mencak brutal emosi kelewat.

Meski aku sudah berteriak kek tarzan nyasar, entah bagaimana Touya tidak bergeming untuk menjawabku. Ia terus terbaring menelungkup di lantai ubin yang dingin. Tidak ada jawaban dari Pak Tua.

“Touya!!!!! aku sedang berteriak padamu!!!! Pokoknya aku tidak terima dengan perlakuanmu tadi!!!!!”, omelku misuh-misuh.

Tetap tak ada jawaban atau sekedar sahutan sama sekali.

BUK!

Kutendang tubuh Touya yang tergolek itu.

Tak ada gerakan.

Sapu yang belum sempat kugunakan untuk memukul Touya, kini kugunakan untuk menusuk tubuhnya, memastikan ia sadar atau tidak.

Aku perhatikan baik-baik tubuhnya sekali lagi. Sama sekali tidak bergerak.

“Dasar Pak Tua mesum!!! Bisa-bisanya dia langsung tertidur seperti itu!!!!!”, dumelku kesal.

♥☺♥

“Hm.. terima kasih Ryou. Kuharap kau bisa segera datang.. maaf mengganggu dan merepotkanmu malam-malam begini…”, ucapku terdengar merasa tidak enak pada seseorang yang ada di sebrang sana.

“Sama-sama, jangan dipikirkan. Aku akan segera menjemput Touya ke sana.”, ucap seseorang yang kusebut Ryou itu dengan ramah.

“Sekali lagi, terima kasih.”, ucapku.

Ttuuuuuuuuuuuutt—

Suara telepon terdengar sudah diputus dari sebrang sana. Aku menyingkirkan ponsel Touya dari telingaku, kupandangi sejenak ponsel touchscreen canggih milik Touya itu.

“Ukh, kenapa dia harus memiliki ponsel incaranku yang tak mau ayah belikan untukku!!”, gumamku iri lalu meletakkan ponsel Touya ke meja.

Kulirik Touya yang tertidur pulas di sofa itu. Dengan susah payah kupindahkan tubuhnya yang berat itu dari lantai yang dingin ke sofa. Wajahnya damai sekali saat tertidur, berbeda sekali dengan wajahnya yang biasa ia tunjukkan padaku.

“Hihihi..”, aku terkikik ketika melihat Touya tiba-tiba ngelindur senyam senyum sendiri. Mungkin ia sedang bermimpi indah. Kupandangi lagi wajahnya yang sementara ini terlihat polos tanpa dosa.

Lagi-lagi tak sadar aku mulai memandangi wajah Touya yang sedang tertidur lekat-lekat. Hmm.. andai wajahmu bisa terus begini seperti saat kau terbangun, gumamku dalam hati. Rambut cepaknya terlihat hitam berkilau terkena sinar lampu. Kakinya yang panjang harus sedikit menggantung karena sofa yang ia tiduri terlalu pendek untuk tubuh tingginya. Wajahnya.. hmm.. kesan dinginnya masih tetap ada.. ternyata setelah diperhatikan aku baru sadar, di pelipis Touya sebelah kanan ada karangnya.. Dia terlihat manis dengan karang itu. Kuperhatikan matanya, hidungnya dan bibirnya..

Langsung teringat lagi saat aku akan menoleh pada Touya, di mana setelahnya aku merasakan bagaimana bibir Touya menyentuh bibirku.. *adegan dilarang ditiru untuk orang berumur 100tahun ke bawah!

DAG DIG DUG

Pipiku memanas seketika.

YURI!!! Sadarlah!!! Cowok itulah yang telah bertindak sembrono padamu!!! Dialah cowok yang kukira gay, tapi ternyata cowok mesum!!! Aku harus segera singkirkan dia dari sini! Aku berusaha mewaraskan pikiranku dari Touya.

Aku harus melakukan sesuatu agar aku tidak memandangi Touya lagi!!! Lalu aku mencari sesuatu hal yang bisa kukerjakan. Huh! Aku tak tau apa yang harus kulakukan!!! Aku benar-benar kalang kabut dan bingung sendiri.

Sebuah benda milik Touya yang tergeletak di meja kini menarik perhatianku. Ponsel touchscreen yang sempat kugunakan sebelumnya. Hihihi, ide nakal muncul dari pemikiran kriminal seperti aku. Aku jadi ingin tau, apa saja isi dari ponselnya yang membuatku ngiler itu *beuh. Kuambil ponsel berwarna hitam mengkilat itu dari meja.

“Pak Tua, kali ini aku pinjam ponselmu ya?!”, izinku pada Touya yang sedang setengah tak bernyawa itu.

Aku meneliti setiap detil bagian body dan casing ponsel Touya yang bikin excited itu.

“Ish!!! Aku jadi semakin gemas untuk memiliki ponsel Pak Tua. Untung saja, sepertinya kau menyukai warna hitam, karena dari yang kulihat semua barang bagus milikmu selalu berwarna hitam, mulai dari ponsel ini, laptop hingga mobilmu. Andai kau memiliki ponsel ini dengan warna biru, aku pasti akan merampoknya darimu!!”, gumamku nafsu maling.

Lalu aku mulai membuka file-file dalam ponsel itu, kali saja dia juga menyimpan video mesum kek artis rielpetpan dan lunmay *rielpetpan lunmay kan artis Indonesia?!, pikirku curiga penuh prasangka menuduh bin menusuk *jangan ditiru yak!.

(PERHATIAN!!! Lagi-lagi author sedang keadaan kurang waras saat menulis cerita, mohon dimaklumi readers tercinta! *HOEKS: readers muntah darah. Sabtu, 06 Nopember 2010 21:41)

Ukh, sayang bateray ponsel Touya sudah sekarat. Ah, hanya bentar ini..

File pertama yang langsung kubuka itu sudah jelas, video. Setelah kubuka…

JENGJENG!!!!

Tidak ada satu video pun di dalamnya. Dugaanku salah.

File kedua yang kubuka selanjutnya, album foto. Bisa saja Touya mengoleksi foto atau gambar mesum di dalamnya!, aku berprasangka lagi. Begitu kubuka..

WOOOOOWWWW!!!

Banyak sekali fotonya!!!!! Kubuka satu persatu foto yang ada. Tapi, dari sekian banyak foto yang kubuka sampai sejauh ini aku tidak menemukan satu pun foto yang terlihat mesum. Sepertinya dugaanku meleset lagi. Yang kulihat hanya foto-foto pemandangan yang indah, teman kampus Touya baik cowok atau cewek yang rata-rata fotonya itu rame-rame, foto keluarga Touya bahkan foto Teru bersama Reika juga ada. Aku sampai agak sebal melihatnya. Dan sampai kutemukan.. foto seorang cowok yang kulihat kemarin bersama Touya, cowok yang kuyakini bernama Ryou. Fotonya cukup banyak di ponsel Touya.

“Idiiih, kau itu sebenarnya normal atau tidak sih?! Atau jangan-jangan kau mempunyai kepribadian ganda?!”, tuduhku mulai berprasangka yang tidak-tidak lagi terhadap Touya.

Aku menggeser ke foto selanjutnya, kali ini foto seorang cewek sendirian yang sedang menyunggingkan senyum terindahnya sepanjang jaman.

“Karin?!”, seruku kaget.

Dari sekian banyak foto yang kubuka kenapa ada foto Karin? Sementara aku yang jadi muridnya Touya bahkan tak ada satu pun fotoku! Ukh, Pak Tua menyebalkan!!! *bilang aja pengen eksis. Selain itu, baru kali ini ada foto seorang cewek di album foto Touya yang tersendiri seperti ini.

Tunggu?! Jangan-jangan gadis yang dimaksud Touya itu.. Karin? Jadi Touya menyukai Karin?

DEG!

Mendadak dadaku rasanya sesak, benar-benar sesak. Ada apa denganku? Kenapa jadi begini?? Rasanya sakit..

Tak sengaja tanganku menggeserkan ke foto selanjutnya. Ternyata masih ada foto lainnya.. Aku melihat foto itu, itu foto Karin lagi. Hanya saja di foto itu dia terlihat berdua dengan seorang cowok yang kupikir jadi pasangan gay Touya.

Apa?! Karin dengan Ryou???. Benar, difoto itu ada Karin dan Ryou yang terlihat akrab. Ada apa ini??? Aku jadi semakin tidak mengerti? Kenapa Karin bisa foto berdua dengan Ryou? Apa Karin mengenal Ryou? Kini beribu pertanyaan menumpuk tentang foto itu. Aku jadi semakin penasaran, sebenarnya apa hubungan Karin dalam foto ini?

Aku menggeser lagi ke foto selanjutnya, berharap menemukan foto Karin lainnya. Begitu gambarnya kugeser dan fotonya berganti, yang kulihat bukanlah wajah Karin dan Ryou lagi.

Ternyata aku menemukan foto cewek lain yang tersendiri lagi. Seorang cewek yang sedang tertidur dengan posisi duduk dan sepertinya foto itu diambil dari dalam mobil. Cewek itu berambut lurus dengan panjang kurang lebih sebahu. Wajahnya terlihat damai dan tanpa dosa seperti wajah Touya saat tertidur sekarang ini… anehnya aku seperti tidak asing melihat wajah cewek ini.

Aku tak mau berpikir apa-apa lagi tentang cewek itu. Pikiranku masih berkutat dengan foto yang sebelumnya kulihat. Aku menggeserkan kembali ke foto selanjutnya. Ternyata sudah kembali ke foto yang pertama, berarti sudah semua foto kulihat.

Eh?! Aku seperti teringat sesuatu. Baju yang dipakai cewek pada foto terakhir itu seperti baju seragam SMU yang sama denganku? Aku langsung melihat kembali foto cewek yang terakhir, lalu kuperhatikan lebih seksama lagi wajah cewek itu.

“Hah? Inikan…… AKU?!”, sontakku kaget begitu menyadari siapa yang ada di dalam foto itu. Aku baru bisa menyadarinya ketika melihat anting yang dipakai cewek di foto itu, sama persis dengan punyaku!!!

“Pak Tua! Kenapa kau tak pernah bilang mengambil fotoku!! Pasti kau ambil fotoku ini saat menjemputku beberapa waktu lalu kan, hah?”, ucapku misuh-misuh pada Touya yang masih adem ayem molor di sofa.

“Aku harus hapus foto ini!”, kataku kesal dan langsung menekan opsi untuk menghapus foto.

PIP PIP

Belum sempat kuhapus foto itu dari ponsel Touya, tanpa permisi dan basa basi busuk lagi bateray ponsel Touya yang sebelumnya memang sekarat, akhirnya ngedadak serangan jantung dan mati. Bateraynya habis. Aku cengo.

♥☺♥

TING TONG

Jam 9 malam lebih 45 menit, seseorang memencet bel rumahku. Dan segera kubukakan pintu rumahku.

Seorang cowok yang pernah kulihat beberapa kali secara tidak langsung dan sering Touya sebutkan namanya saat menerima telepon, kini ada di hadapanku. Tinggi tubuhnya tidak beda jauh dengan Touya, hanya mungkin Touya sedikit lebih tinggi darinya. Seseorang yang Touya sebut sahabatnya. Kesan pertama saat bertemu langsung dengannya bagiku: Dia terlalu maco dan terlihat normal untuk seorang gay. Dugaanku kali ini benar-benar salah.

“Apa kau yang bernama Ryou?”, tanyaku memastikan.

“Iya, dan kau Yuri kan?”, ucapnya balik memastikan.

“He-eh.”, aku mengangguk. “Mari masuk..”, ucapku mempersilakannya masuk.

Ya, orang itu Ryou atau Ryou Aikawa. Mungkin aneh, tapi aku tak tau apa yang harus kulakukan pada kecerobohanku yang membuat Touya mabuk. Entah bagaimana aku terpikir untuk menelpon Ryou dengan menggunakan ponsel Touya untuk menjemput Touya.

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Touya? Kenapa dia bisa jadi seperti ini?”, tanya Ryou heran begitu sampai di ruang tengah dan melihat keadaan Touya.

“Eh, haha..”, aku tertawa kaku. “Aku sedikit membuat kecerobohan padanya..”, jawabku.

Ryou hanya memandangku heran. Dan dia mulai membangunkan Touya terlebih dulu.

“Touya, bangunlah! Bangun!”, ucap Ryou berulang kali, sambil menepuk-nepuk pipi Touya.

Belum ada gerakan dari Touya.

“Tadi aku sudah coba membangunkannya. Tapi, dia sama sekali tidak bergerak.”, kataku sekedar memberi informasi.

“Aneh, kenapa Touya bisa tertidur sepulas itu??”, Ryou kembali terheran-heran. Dia memandangi alam sekitar ruangan. Dan kaleng sake yang belum kusingkirkan pun terlihat oleh Ryou. Lalu Ryou mengambil kaleng itu dan menyelidik kaleng yang ia pegang. Ryou terlihat berpikir setelah itu dia sempat menatap Touya sekilas.

Pasti ketahuan…

“Pantas saja Touya jadi seperti ini.. Kau memberikannya sake buah.”, ucap Ryou sudah mengetahui apa yang telah terjadi sekarang. Aku hanya bisa nyengir kuda yang membuat gigiku terasa kering.

“Maaf, tadi itu aku tidak tau kalau yang kuberikan pada Touya adalah sake buah.. Kukira itu jus.. lagi pula aku sedikit aneh dengan Touya, kok dia tidak menyadari yang dia minum itu sake?”, kataku menyesal dengan sedikit membela diri.

“Hahaha, aku mengerti. Touya itu memang buta dengan minuman beralkohol. Dia memang orang yang pintar, hanya saja kepekaannya terhadap yang namanya minuman beralkohol itu dia bisa dibilang paling buta dan bodoh.”, jelas Ryou sambil tertawa.

“Kenapa begitu? Memang dia belum pernah minum sake sama sekali?”, tanyaku heran *kek Yuri sendirinya pernah aja.

“Bisa dibilang begitu. Karena ayah Touya sendiri selalu melarang Touya untuk meminum sesuatu yang beralkohol seperti sake. Di rumah Touya juga tidak pernah ada satu pun minuman seperti ini.”, jelasnya lagi.

“Oooh..”, aku hanya meresponnya dengan kata oh tanda mengerti.

Ryou terlihat kembali mencoba membangunkan Touya.

“Touya bangunlah! Mau sampai kapan kau tidur di rumah orang?”, kata Ryou dengan suara yang cukup kencang.

Kali ini Touya terlihat sedikit memberi gerakan. Dia hanya membalikkan tubuhnya membelakangiku dan Ryou. Namun Ryou membalikkan lagi tubuh Touya.

“Sampai kapan kau akan tidur hah? Bagaimana aku bisa membawamu pulang dengan motor jika kau tertidur seperti ini?!”, omel Ryou.

Ryou terus berusaha membangunkan Touya yang tidurnya ‘ngebo’ kelewatan. Nihil.

Karena kasihan, akhirnya aku menyuruh Ryou untuk membiarkan Touya untuk tetap tertidur dulu. Sambil menunggu datangnya keajaiban yang dapat membuat Touya bangun. Aku mengajak Ryou mengobrol..

“Ryou, sebaiknya kita biarkan Touya beberapa menit lagi untuk bangun, kali saja dia akan terbangun dengan sendirinya.”, ucapku pada Ryou.

“Baiklah kalau begitu. Tadinya aku hanya tidak enak jika ayahmu nanti keburu pulang.”, ucap Ryou sungkan.

“Harusnya aku yang merasa tidak enak padamu karena telah menyusahkanmu. Tenang saja ayahku biasanya pulang sekitar jam 11an.”, kataku balik sungkan.

Hening.

Sebenarnya aku masih penasaran akan sesuatu terhadap Ryou. Aku harus bertanya padanya..

“Sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu padamu. Maaf bila pertanyaanku mungkin akan menyinggungmu.”, ucapku pada Ryou.

“Apa?”

“Hubunganmu dengan Touya begitu dekat, dia bahkan pernah memberimu bunga bukan? Hmm.. kurasa kalian memiliki ikatan yang berbeda, seperti lebih dari teman atau sahabat.. benar begitu kan?” *beuh belum percaya juga..

“Hah? Apa maksudmu?”

“Maaf.. apa kalian berpacaran?”

“Hah? Siapa yang kau maksud?”

“Kau dan Touya..”, ucapku polos.

“Hah?… …. …. …. ha..ha..ha…. HAHAHAHAHAHA!!!”, tawa Ryou meledak seketika. Tawanya membuatku kaget. “Yuri? Kau ini sedang bercanda ya?!”, ucap Ryou kemudian dengan nada serius.

“Haah?? Aku, aku tidak bercanda. Ryou aku mengerti kok kau tertawa seperti itu untuk menutupi semuanya. Tapi aku sungguh mengerti kok, aku akan tutup mulut!”, ucapku meyakinkan.

“Bagaimana bisa kau menyimpulkan hubunganku dengan Touya seperti itu? Aku ini masih normal, bahkan aku punya kekasih.”, bantah Ryou.

“Kekasih? Hm.. cewek kan?”, tanyaku dengan dodolnya.

“Hm.. tentu saja. Kau ini lucu sekali! Aku berani jamin, aku ini cowok tulen. Perlu bukti?”, ucap Ryou menantangku.

“Hah?! Ti, tidak perlu! Aku percaya kok!!”, ucapku langsung menolak.

Habis.. dari yang kuingat.. Touya juga terakhir berkata seperti itu padaku, sebelum dia tertidur dan… Akh!!!

“Benar ya? Kau percaya??”, tanya Ryou.

“Iya, aku percaya. Hm.. dan aku minta maaf atas tuduhanku padamu..”, ucapku menyesal.

“Haha.. Baiklah, aku maafkan. Tapi aku sedikit penasaran, kenapa kau berpikir aku dengan Touya gay dan kami saling berpacaran?”, tanya Ryou sambil tertawa kecil.

“Ng itu.. karena kulihat akhir-akhir ini Touya sering sekali menerima telepon darimu. Dan dia seperti mengutamakanmu dalam segala hal. Apalagi saat kulihat dia memberikanmu karangan bunga..”, jelasku malu.

“Haha.. Jadi Yuri cemburu padaku?”, tanya Ryou ringan namun membuatku kaget setengah hidup.

“TIDAK! Bu, bukan begitu maksudku!!! Kan hanya aneh dan mencurigakan saja kelihatannya. Habis aku pernah melihat Touya tersipu malu saat menerima telepon darimu..”

“Benarkah?!”, ucap Ryou kaget. Lalu melirik Touya yang tidur dengan posisi membelakangi kami. Entah sejak kapan posisi tidurnya berubah lagi. “Ng, ngomong-ngomong Touya mabuk dan tertidur seperti itu sudah sejak jam berapa?”, tanya Ryou tiba-tiba.

“Hm.. Kalau mabuk mungkin sejak jam 7 lebih 15 menit dan setengah jam kemudian dia baru tertidur seperti itu, kira-kira dia mabuk sudah hampir dari 3 jam.”, jelasku.

Ryou menatap Touya seperti sudah tau sesuatu. “Hahaha, aku hanya bercanda.. hm sebaiknya aku coba bangunkan Touya sekali lagi.”, ucap Ryou. Aku hanya mengangguk saja.

“Touya! bangunlah! Sejak kapan kau jadi pemalas begini?”, kata Ryou mencoba kembali membangunkan Touya. Kali ini ada sedikit gerakan dari tubuh Touya. kakinya bergerak.

Ryou sedikit tersenyum. Tak berapa lama, entah bagaimana caranya, akhirnya Touya bisa sedikit terbangun meski dengan keadaan lemas dan setengah tidur.

Dengan sedikit susah payah Ryou memapah Touya ke motornya. Meski aku kesal pada Touya dan ingin memakinya. Kali ini aku merasa lebih baik Touya tidak benar-benar langsung terbangun. Jika itu terjadi, aku tidak akan tau bagaimana caranya aku harus menghadapinya setelah kejadian yang mungkin seharusnya tak pernah terjadi.

“Ryou, sekali lagi aku ucapkan terimakasih karena kau sudah berbaik hati menjemput Touya. Selain itu, rasanya aku masih merasa tidak enak atas prasangkaku padamu. Maafkan aku..”, ucapku sambil garuk-garuk kepala tengsin sebelum Ryou melajukan motor Touya.

Cat: Ryou yang datang untuk menjemput Touya, memang sengaja tidak membawa kendaraan. Maka Ryou yang membawa motor Touya sedangkan Touya sendiri dibonceng dengan keadaan yang terlihat masih lemas.

“Sudahlah, aku mengerti kok. Yuri hanya salah paham saja.”, kata Ryou maklum.

Aku tersenyum, “Aih.. rasanya aku malu sekali. Bagaimana aku bisa berpikiran hal seperti itu padamu padahal kau orang yang begitu menyenangkan.”

“Haha.. tak apa. Hm, sebaiknya aku dan Touya langsung pamit saja karena malam semakin larut.”

Aku mengangguk. Lagipula aku juga sudah tidak tega melihat dua mahluk cowok itu dengan wajah yang kelelahan. “Hati-hati di jalan! Apalagi kondisi Touya masih seperti itu.”, ucapku.

“Iya, aku akan membawa motor ini pelan-pelan. Selamat malam, Yuri!”, balas Ryou lalu melajukan motornya menjauh dari rumahku. Aku memandangi motor itu hingga motornya benar-benar hilang dari jangkauan pandanganku.

♥☺♥

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s