Teach Me [Bab 8]

Bab 8

“GYYYYYYYYAAAAAAAAAAAAAAAAHHHH!!!!!!!”

TRAK! TRAK! TRAK!

Dengan membabi buta aku langsung memukulkan ranting yang kupegang ke ‘sesuatu’ yang menyentuh bahuku. Aku benar-benar panik, bahkan melihat ‘apa’ yang telah menyentuhku pun tidak sempat. Aku terlalu takut.

“HENTIKAN!”, bentak ‘sesuatu’ yang kupukuli. Lalu ada sebuah cahaya yang sedikit mengganggu pandanganku.

Seketika aku menghentikan ayunan tanganku yang brutal. Aku mengenali dengan persis suara yang membentakku. Dengan perlahan aku memberanikan diri melihat ‘sesuatu’ yang kupukuli.

“To, Touya?!”, seruku kaget sekaligus cukup senang karena kupikir akhirnya ada yang menemukanku. Ya, Touya sudah ada di hadapanku sekarang ini dengan membawa senter kecil yang cahayanya sempat terlihat sekilas tadi.

“Iya! Ini aku!”, jawabnya dengan nada yang terdengar kesal.

“Ba, bagaimana kau bisa…”, kata-kataku terputus karena sedetik kemudian..

“APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI HAH?? BAGAIMANA MUNGKIN KAU BISA BERADA DI SINI HINGGA SEMALAM INI HAH?! APA KAU TIDAK TAU SEMUA ORANG MENCEMASKANMU?!”, bentak Touya bertubi-tubi. Dia terlihat begitu marah padaku.

Deg!

Aku benar-benar kaget dengan bentakan Touya. aku hanya bisa mematung mendengar semua bentakannya.

“Kenapa?”, tanya Touya dengan sedikit turun. Tak lama dia terlihat menghela napas dengan kesal. “Kenapa ponselmu non aktif? Dan kenapa saat ponselmu aktif kau tidak menjawab panggilan dari orang-orang yang mencarimu? Apa kau sengaja menghilang tanpa jejak seperti ini? Apakah ada hal lain yang biasa kau lakukan untuk membuat orang sekitarmu cemas selain ini? Kau bahkan lebih menyusahkan daripada anak TK! Tak bisakah kau lebih dewasa sedikit? Dan memikirkan perasaan orang lain selain perasaanmu sendiri?!”, ucap Touya dengan nada yang dingin.

Kugenggam erat ranting yang sebelumnya kupakai untuk memukul Touya. Aku menahan air mataku untuk tidak keluar lagi, tapi air mataku malah semakin deras membasahi pipiku..

“Sudah selesai?”, ucapku dengan suara parau.

Touya menatapku tak mengerti. Aku balas menatapnya tajam, meski terlalu dipaksakan karena mataku penuh dengan air.

“Sudah puas? Mengeluarkan kata-katamu yang menusuk itu? kata-kata yang bahkan lebih menusuk dari hawa dingin yang menyerangku di sini. Atau mungkin kau sudah puas membuatku ketakutan dengan sikap kasar dan bentakanmu, melebihi ketakutanku saat sendirian harus menghadapi gelapnya hutan ini? Kau sendiri? Pernah berpikir bagaimana rasanya mengalami apa yang kurasakan? Tersesat di hutan sendirian malam-malam dan begitu kau ditemukan, yang kau malah dapatkan cacian tanpa ampun. Lihat wajahku! Apa aku terlihat senang sekarang?!”, ucapku sinis.

Touya terdiam sejenak. Raut wajahnya sedikit berubah, namun pandangannya tetap dingin padaku.

“Aku tau..”, ucapnya.

“Hah?! Ya! Kau hanya tau bagaimana caranya menghancurkan perasaan orang! Tapi kau tidak tau apa yang sebenarnya terjadi padaku?!”, ucapku emosi lalu mengambil langkah untuk pergi dari tempat itu. Tersesat lebih jauh akan lebih baik untukku sekarang daripada harus bersama mahluk seperti itu!

“Yuri!”, panggil Touya sambil menarik tanganku.

“LEPASKAN!!!”, bentakku lalu mengayunkan ranting ke arah Touya sekuat tenaga.

PRETAK!!

Pukulan rantingku berhasil mendarat di tangan Touya, bahkan hingga rantingnya patah. Tangan Touya pun terlepas dari tanganku sehingga aku bisa pergi dengan leluasa. Kupikir pukulanku barusan cukup keras untuk menghentikannya.

Belum sampai tiga langkah aku meninggalkan tempat itu..

SREEETTT!

Touya kembali menarik tubuhku. Aku berusaha meronta darinya tapi yang ada Touya malah semakin kuat menarikku. Tempatku berdiri pun sudah tidak ada jarak lagi dengan Touya, dia malah mendekapku. Dengan sisa tenagaku aku memukuli Touya untuk bisa lepas darinya.

BUGH! BUGH! BUGH! BUGH!

“Lepaskan! Hiks.. lepaskaaan!”

Touya makin mendekapku, pukulanku sama sekali tidak membuatnya bergeming sedikit pun. Aku lelah.. pukulanku makin melemah dan tak bertenaga sampai akhirnya aku hanya bisa tenggelam dalam dekapan Touya.

“Touya bodoh… Benar-benar bodoh.. hiks.. hiks..”, ucapku lemah dan terisak. Hah.. aku terlalu lelah..

Beberapa saat aku dalam dekapan Touya, keadaan menjadi lebih tenang. Mungkin karena aku juga yang tak sadar mulai nyaman dalam dekapan Touya saat ini. Ya… tubuhnya yang lebih besar membuatku terasa dilindungi dan hangat. Aroma mint dari tubuh Touya juga membuatku merasa lebih baik. Setidaknya membuatku sejenak melupakan sikap kasarnya. Aku berharap bisa lebih lama seperti ini.. kali ini saja..

“Hah..”, terdengar Touya menghela napas pelan. “Aku tau..”, ucapnya kemudian.

Aku hanya terdiam.

“Aku tau, aku salah. Maaf, aku telah memarahimu dan membentakmu seperti tadi. Sungguh.. aku tidak bermaksud kasar dan menyakitimu.. aku terlalu mengkhawatirkanmu.”, ungkap Touya penuh penyesalan.

“Apa kau mau memaafkanku?”

Aku terdiam sejenak dan beberapa saat kemudian aku mengangguk lemah. Entah karena aku pemaaf atau karena aku sedang berada di dalam dekapannya karena itu aku mengangguk. Apa benar aku langsung memaafkannya?

“Baiklah… dan maafkan aku juga yang sering kali bersikap tidak adil padamu selama ini.”

Aku kembali mengangguk, sepertinya hanya gerakan itu yang bisa kulakukan saat ini. Ya.. mungkin kepalaku terlalu pusing untuk melakukan gerakan lain.

“Apa kau benar-benar bisa memaafkanku dengan mudah?”, tanya Touya ragu.

Aku hanya bisa mengangguk.

“Hah.. Apa kau masih bisa memaafkan aku, atas sikapku yang pengecut?”

Kali ini aku terdiam.

“Aku mohon kau jangan mengangguk lagi.. Jika kau mengangguk, maka akulah yang tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri..”

Aku terdiam. Entahlah.. Mungkin memang sudah aku tidak bisa melakukan gerakan apa-apa lagi.

Rasanya ada sesuatu yang mengalir dari hidungku. Perlahan aku merenggangkan dekapan Touya, maksudku untuk melihat apa yang mengalir dari hidungku. Sepintas aku melihat noda merah di baju Touya.

“Da..rah..”

“Apa?”, tanya Touya heran.

“Maaf, sepertinya aku membuat noda di bajumu..”, ucapku lemah sambil menatap dada kaos putih Touya.

Touya melirik ke kaosnya.

“YURI?!”, panggil Touya spontan.

♥☺♥

“Maafkan aku..”

Kata-kata itu seperti terus terngiang di alam bawah sadarku.

Sebuah cahaya menyilaukan terasa mengusikku, membuatku merasa harus membuka kelopak mataku yang masih terasa berat. Perlahan aku mulai membuka mata. Dan benar saja.. Samar-samar cahaya mentari terlihat menyelusup melalui celah-celah tirai putih yang tak jauh dari tempatku berbaring..

Tapi tunggu.. Di mana ini?

Mataku berputar, menelaah setiap sudut  ruangan tempatku berada sekarang. Tak lama aku berusaha untuk bangun, tapi rasanya badanku enggan diajak kompromi, aku masih lemas. Belum lagi, tangan kiriku terasa pegal dan agak sakit. Aku baru sadar, jarum infusan sudah tertancap di sana. Bersamaan dengan itu, kutemukan seseorang tengah tertidur di kursi samping tempat tidurku. Berbantalkan kedua lengannya, ia terlelap dengan posisi menelungkupkan wajahnya dan menjadikan pinggiran kasur sebagai tumpuannya.

Aku memiringkan tubuhku ke arah orang yang ada di sampingku. Kupandangi ia untuk beberapa saat. Jaket besar berwarna coklat tua yang ia kenakan masih kuingat sejak terakhir aku melihatnya. Hah.. kenapa monster ini ada di sini?

“Monster… pak tua… kau bodoh…”, hardikku dengan suara setengah berbisik.

Kugerakkan tangan kananku perlahan, coba menyentuh rambut hitamnya. Sedikit kubelai rambutnya, yang ada malah membuat jantungku mendadak berdebar debar. Bayangan saat ia mendekapku, seperti film yang mendadak terputar diingatanku.

“Ukh..”, dengusku lalu kutoyor kepalanya pelan.

“Pak tua bodoh. Kau benar-benar bodoh dan menyebalkan. Apa yang kau lakukan sampai aku harus terbaring di sini?”, tuduhku.

“Kau jahat sekali.. kau monster.. apa kau tau? Rasanya aku ingin membunuhmu sekarang ini! Karena aku benar-benar membencimu. Aku benci atas segala sikap kasar dan dingin yang kau tunjukkan padaku selama ini!”, ungkapku.

Kutoyor lagi kepala mahluk yang kusebut Pak tua itu.

“Kenapa aku harus bertemu mahluk sepertimu? Kau datang ke dalam hidupku lalu menghancurkannya.. kau benar-benar licik! Huh! Kenapa kau harus mengambil first kissku?! Itu sangat menyebalkan!”, omelku ngelantur dengan volume yang sudah tak dapat kukontrol lagi. Tangan kananku terkepal, gemas ingin melayangkan jitakan pada Touya tapi tertahan.

“Aish! Kenapa aku harus mengingat hal mengenaskan itu?!”, gerutuku lalu melayangkan jitakan yang harusnya mendarat di kepala Touya ke kepalaku.

“Hah! Sungguh, aku ingin membunuhmu!!!”, ucapku gemas.

Kembali kuperhatikan mahluk di hadapanku sekarang. Aku menghela nafas melihatnya. “Bagaimana bisa kau tertidur seperti itu di hadapanku sekarang ini? Kau benar-benar curang.. aku begitu membencimu, tapi kenapa kau harus memenuhi isi kepalaku? Hah.. ini tidak adil.”

DAG DIG DUG…

“Haaaaah.. yang benar saja.. bagaimana mungkin jantungku bisa berdebar seperti ini hanya karena aku memandangimu tertidur?! Pak tua ini benar-benar menyebalkan!”, ucapku makin ngelantur sambil menoyor kepala Touya untuk ke sekian kalinya.

GREPH.

Tiba-tiba tangan Touya memegang tanganku.

“Eh?!”, pekikku kaget. Dan entah bagaimana mataku refleks tertutup dan pura-pura tertidur. Yuri, kau bodoh.

Sepertinya Touya terbangun karena aku menoyor kepalanya terlalu keras. Ba..bagaimana ini??

Touya melepaskan tanganku perlahan lalu terdengar ia beranjak dari kursinya. Ya, aku masih terus berpura-pura untuk tidur. Tak lama, kudengar pintu di dalam ruangan ini dibuka lalu ditutup dengan pelan.

Apa Touya sudah keluar dari ruangan ini?? Kurapatkan mataku beberapa menit, selama itu aku tidak mendengar apa pun di sekitarku. Aku rasa dia sudah pergi..

Kubuka mataku perlahan, mulai terlihat kursi kosong di hadapanku.

“Hah~~ syukurlah..”, ucapku lega kemudian menghadapkan tubuhku ke arah langit-langit ruangan. Tapi.. ada sesuatu yang aneh. Seperti ada yang memperhatikanku sekarang ini. Refleks ku menoleh ke samping kanan dan..

“Kau sudah sadar, Yuri?”, tanya seorang cowok yang kepalanya baru kutoyor beberapa kali dengan ekspresi datar. Touya berdiri di samping kanan kasurku dengan wajah yang cukup kusut dan baju yang belum diganti, terlihat dari noda merah di kaos putih bagian dadanya.

GLEK.

Aku hanya bisa terdiam dan menatap Touya. Hah.. aku tertangkap basah sekarang.

“Jangan tatap aku seperti itu. Aku bukan hantu..”, ucapnya.

Eh. Aku langsung mengalihkan pandanganku lalu menarik selimut hingga ke leher.

“Syukurlah jika kau sudah sadar.. aku harap kau cepat pulih. Agar kau bisa cepat-cepat membunuhku.”, ucap Touya ringan.

DEG!

Di..dia mendengar semuanya?! Hah! Bodoh sekali aku?!

Tangan Touya tiba-tiba menyentuh kepalaku. Aku sedikit kaget dan refleks menenggelamkan sebagian wajahku ke dalam selimut. Aku sempat berpikir dia akan balas menoyor kepalaku.

Ekor mataku melihat seutas senyum tipis dari bibirnya.

“Dasar bodoh.”, ejeknya sambil mengacak acak rambutku pelan. Aku tak berkutik. “Aku akan menyusul ibumu ke kantin untuk memberitahukan bahwa kau sudah sadar.”, ucap Touya, kemudian pergi meninggalkan ruangan ini. Kali ini dia benar-benar pergi.

♥☺♥

“Yuri, ibu ke kantin rumah sakit dulu. Kau mau titip sesuatu?”, tawar ibu.

Aku menggeleng, “Tidak, aku tidak berselera dengan makanan rumah sakit.”

“Kalau begitu, mau ibu belikan makanan lain? Setidaknya makanan yang bisa membuatmu berselera?”, tawar ibu lagi. Kali ini ada senyum nakal di bibirnya.

“Hahaha, boleh! Aku ingin tempura dan sushi!”, ucapku semangat. Ibu memang mengerti aku.

“Hahaha, dasar anak nakal!”, ucap ibu sambil mencubit pipi teposku.

“Kan ibu yang mengajariku nakal.”, kilahku ringan.

“Baiklah, ibu tinggal dulu ya.”, pamitnya lalu mengambil langkah pergi. Tapi sebelum ibu menutup pintu untuk keluar, ia berhenti sejenak, “Rahasiakan ini dari suster”, ucapnya dengan nada seperti berbisik.

Aku tertawa kecil melihat kelakuan ibu.

Kini sosoknya menghilang dari ruangan ini. Hah.. sekarang aku sendirian lagi di ruangan ini. Aku menatap pemandangan di balik jendela di ruangan ini. Mataku menerawang keluar, entah apa yang kupikirkan sekarang ini. Beberapa saat aku melamun tak jelas, sampai..

“YURIIIII!!!!!”, panggil Karin heboh lalu memelukku erat.

“Ahaha.. Karin, kau berlebihan.”, ucapku lalu merenggangkan pelukan Karin.

“Selamat sore, Yuri.”, sapa seorang cowok yang datang bersama Karin.

“Ryou?”, ucapku heran.

Kulihat Ryou dan Karin bertukar pandang, sepintas mereka tersenyum.

“Maaf Yuri.. ehehehe. Kenalkan! Ryou Aikawa, dia pacarku.”, tutur Karin cengengesan.

“Se.. sejak kapan kalian kenal? Dan ber..”, ucapku menggantung saking herannya.

“Sejak bertemu di toko kaset beberapa bulan yang lalu.”, jawab Ryou.

BUK.

Kupukul Karin dengan bantal. “Kenapa kau tidak pernah cerita?!”

“Ehehehe, maaf. Habis kupikir akhir-akhir ini kau sedang banyak masalah, terutama dengan jadwal lesmu.”, kilah Karin.

Mukaku tertekuk disertai bibir manyun seperti biasanya jika aku mulai kesal.

“Bagaimana kondisi Yuri sekarang?”, tanya Ryou mengalihkan.

“Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Ibu bilang besok pagi aku sudah bisa pulang dari rumah sakit.”, jawabku.

“Oh..”, Karin ber-oh ria. “Ya.. percuma saja kita jenguk Yuri hari ini, besok juga dia pulang. Kita bawa lagi saja buah-buahan ini.”, tutur Karin kecewa dan ogah rugi.

“Apa kau ingin aku lebih lama menginap di rumah sakit?! Mana ada orang yang menjenguk itungan sepertimu?”, cetusku sewot.

“Ahahahahaha..”, tawa kami tak lama pecah.

“Oh iya, apa Touya menjengukmu?”, tanya Ryou tiba-tiba.

“Ah?”

“Soalnya hari ini dia tidak masuk kuliah. Dan ponselnya tidak bisa kuhubungi sejak tadi malam.”, jelas Ryou.

Aku tertegun.

“Ng.. tadi pagi dia sempat menjengukku. Dan.. aku tidak tau lagi..”, jawabku berbumbu senyum ketir.

Hah.. itulah yang sebenarnya sedang kupikirkan. Kudengar dari ibu, Touya sangat mencemaskanku. Dia berusaha keras mencariku, begitu tau aku tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Hingga beberapa menit sekali ia menelpon ayah untuk memastikan aku sudah pulang atau belum. Saat aku tak sadarkan diri lalu dibawa ke rumah sakit, wajah Touya begitu murung. Dia bersikeras ingin menungguiku hingga sadar, ia nyaris tidak tidur semalaman. Selama Touya menungguiku, wajahnya menunjukkan rasa bersalah padaku. Dan sempat terdengar, beberapa kali dia mengatakan “Maafkan aku”. Ah.. ternyata kata-kata yang terngiang itu bukan mimpi. Belum lagi, sebelum ia pergi dari rumah sakit pagi tadi, aku sempat melihat tangan kanannya memar. Ya.. aku ingat bagaimana kerasnya kupukulkan ranting itu ke tangannya waktu itu..

Bagaimana bisa monster itu terdengar begitu mencemaskanku? Hah andai aku bisa melihatnya saat itu..

“Yuri?”, panggil seorang cewek lembut namun berhasil memecah lamunanku.

“Eh?”, pekikku linglung.

“Kau tidak apa-apa?”, tanya Ryou.

Kulihat kedua orang di hadapanku sudah memasang wajah khawatir.

“Ah? Ahaha.. jangan pandangi aku seperti itu. Aku tidak apa-apa..”

♥☺♥

Pertengahan Desember..

Aku duduk di bangku halaman belakang sekolah. Bel tanda pulang sudah berlalu sejak 30 menit yang lalu, tapi aku masih duduk termenung di sini. Apa yang kulakukan? Entahlah.. mungkin hanya melamun tak jelas..

Sudah hampir 2 minggu ini, melamun menjadi kebiasaanku. Tepatnya sejak aku berada di rumah sakit dan terakhir kali aku bertemu Touya.. Sejak saat itu, aku belum bertemu dengannya lagi. Ayah bilang, Touya sedang menghadapi ujian. Ia terlalu sibuk untuk memberikanku les privat seperti biasanya. Mungkin dia tidak akan datang lagi.. Hah.. seharusnya aku senang tapi..

CESSS..

“EH!”, seruku kaget. Sebuah minuman kaleng dingin tiba-tiba mendarat di pipiku pelan.

“Sudah kubilang, berhenti melamun!”, omel Karin sambil memberikan minuman kaleng yang ia daratkan sebelumnya ke pipiku. Kemudian dia duduk di sebelahku.

“Karin..”

Karin menatapku cemas. “Mau cerita sesuatu?”, tanyanya.

Aku tersenyum tipis padanya, tak lama aku menghela napas. “Hm.. akhirnya keinginanku untuk lepas dari pak tua itu terwujud juga..”

Karin terdiam, tatapan mirisnya tertuju padaku.

“Ahahaha.. bagus kan?”, ucapku dengan tawa hampa.

“Yuri.. sepertinya kau harus…”, ucap Karin terpotong.

“Seharusnya aku senang.. aku terbebas dari mahluk mengerikan itu.. tapi.. hiks..”, ucapku mulai terisak. Entah sejak kapan bulir-bulir hangat itu mengalir dari mataku.

“Tapi kau merindukannya..”, sambung Karin sembari memelukku.

“Hiks.. huhuhu…”, aku hanya bisa menangis mendengar kata-kata Karin. Ya.. kupikir itu memang benar. Aku merasa kehilangan Pak tua itu..

Karin melepas pelukannya lalu berkata, “Kau mau bertemu dengan Touya?”

Mataku yang terasa basah membulat. Aku menggeleng pelan. “Tidak, tidak.. aku tak punya alasan untuk bertemu dengannya. Hiks.. Jika aku menemuinya tanpa alasan, itu akan terasa ganjal..”

Tiba-tiba Karin menoyor jidatku. “Ish! Kau ini benar-benar?!  Masih memikirkan rasa gengsi?!”, omel Karin.

“Hiks.. Ya tentu saja! Aku tidak mau terlihat bodoh!”, cetusku.

Kali ini Karin terlihat mencibir dengan wajah agak kesal. “Melihatmu terus-terusan melamun seperti ini juga sudah membuatmu terlihat bodoh!”

“Hah! Sudah lupakan saja!”, sergahku sambil menyeka air mataku dengan kasar.

“Idih.. jangan ngambek dong.”, rayu Karin.

“Siapa yang ngambek?!”, bantahku.

“Ehehehe..”, Karin nyengir garing. “Kau terlihat lebih baik jika ngambek dari pada menangis dan melamun. Ekspresimu yang seperti itu sering membuatku merinding.”, ungkap Karin tiba-tiba.

Aku tertegun mendengar kata-kata Karin.  Sepertinya aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri.

Hah.. perasaanku jadi lebih baik sekarang. Kukembangkan senyumku. “Kita cuci mata yuk!”, ajakku kemudian.

“Boleh! Tapi ke toko kaset ya??”, pintanya.

“Aish, kebiasaan.. baiklah!”, ucapku lalu menarik tangan Karin pergi meninggalkan halaman belakang sekolah.

♥☺♥

“Ka, Karin.. sepertinya mas-mas penjaga toko ini memperhatikanku..”, bisikku risih pada Karin yang asyik memilih kaset film romantis.

“Benarkah? Padahal aku sudah sengaja tidak diam di deretan musik. Sepertinya penjaga kaset itu masih ingat dengan wajah biang onar sepertimu! Kekekek ..”, bisik Karin mengejek.

“Ukh!”, dengusku.

“Sudahlah, tidak usah dipedulikan penjaga kaset itu. Cuek saja, biasanya juga begitu kan?”, ucap Karin ringan.

“Dasar! Kenapa harus ke toko kaset ini lagi sih?!”, protesku.

“Sudah langganan dan toko kaset ini koleksinya lebih lengkap!”, ucap Karin mantap.

Aku hanya bisa manyun mengikuti Karin yang sibuk memilih-milih kaset. Aku coba untuk cuek seperti yang Karin katakan, tapi tidak bisa. Pandangan penjaga toko itu benar-benar membuatku risih!

“Karin, aku menyerah. Kutunggu kau di cafe ice cream biasa kita nongkrong!”, ucapku lalu mengambil langkah pergi.

“Yuri!”, panggil Karin tapi tak kuhiraukan. Aku terus berjalan menuju pintu keluar. Sepintas aku memperhatikan isi toko ini, terutama saat aku melewati deretan kaset musik. Masih kuingat bagaimana brutalnya aku membuat keributan dengan salah satu pengunjung cewek yang bahkan tak kukenal. Dan bagaimana Touya melerai perdebatan tak penting itu.

Beberapa saat aku memandangi isi toko itu sampai tak sengaja bertemu mata dengan penjaga toko kaset. Sial. Pandangannya benar-benar tidak mengenakkan. Kusunggingkan senyum seramah mungkin padanya, dia balas memberi senyuman kecut padaku.

“Ukh! Dasar menyebalkan!”, gerutuku saat berhasil keluar dari toko kaset itu.

“YURI!”, tiba-tiba seseorang memanggilku. Refleks aku menoleh ke arah asal suara orang yang memanggilku.

DEG.

Kulihat dua orang cowok berjalan ke arahku. Aku mengenal mereka, salah satunya adalah pacar Karin. Sedangkan yang lainnya, cowok yang membuatku banyak melamun akhir-akhir ini.

Tepat di hadapan mereka aku hanya bisa terdiam dan melihat mereka berjalan mendekat ke arahku. Aku terpaku di tempatku berdiri sekarang. Jantungku mulai berdentum tak teratur. Jujur, aku senang bisa melihat sosok yang sering kusebut pak tua atau monster ini sekarang, tapi aku tidak tau harus berbuat apa.

“Apa yang sedang Yuri lakukan di sini?”, tanya Ryou.

“Eh? Aku.. aku sedang mengantar Karin mencari kaset.”, jawabku terdengar kaku. Sepertinya aku kelihatan kikuk.

“Woh? Ada Karin?”, tanya Ryou lagi.

“Iya.. Karin masih di dalam toko..”

“Kalau begitu aku masuk dulu untuk menyusul Karin ya!”, ucap Ryou antusias lalu meninggalkanku dan cowok yang dari tadi hanya terdiam di samping Ryou.

Sekarang tinggal aku dan cowok yang datang bersama Ryou. Aish! Kakiku seperti susah digerakkan. Bohong, bukan kakiku yang susah digerakkan. Tapi sepertinya aku memang ingin tinggal di tempatku berdiri sekarang. Pipiku terasa panas..

Kuberanikan memutar bola mataku ke arah wajah cowok yang berjarak kurang dari 1 meter di depanku. Dia sedang melihat ke arahku, praktis kami saling berpandangan beberapa saat. Aku menyerah dan akhirnya memalingkan wajahku. Wajahku seperti direbus sekarang ini!

Tiba-tiba dia mendekat dan memegang dahiku, “Wajahmu terlihat merah. Apa kau sedang sakit?”.

Aku sedikit kaget, dan refleks mengambil langkah mundur. Matanya sempat membulat. Sepertinya dia tidak menyangka aku akan membuat gerakan terkesan menghindar darinya.

Sorot matanya perlahan berubah sendu. “Maaf, sepertinya aku masih membuatmu takut.”, ucap Touya.

DEG

A, apa dia Touya? Apa dia monster yang kukenal?

Mengapa ia terlihat selemah ini sekarang? Kata-katanya barusan membuatku merasa ada yang salah sekarang ini. Hah, aku tidak bermaksud seperti itu.. sungguh.. ingin kukatakan aku tidak apa-apa padanya, tapi semuanya seperti tercekat di tenggorokkanku. Aku hanya bisa terdiam menunduk dengan segala pikiranku.

Yang ada aku dan Touya hanya bisa mematung di trotoar sambil berhadapan. Touya sendiri terlihat enggan mengeluarkan suaranya lagi. Setidaknya aku tau ia tengah memandangiku. Jujur, situasi ini membuat perasaanku kurang enak. Bukannya tidak suka bertemu dengan Touya, tapi keadaannya terlalu canggung. Aku bingung, aku benci keadaan canggung seperti ini, tapi aku juga tidak mau pergi dari sini. Setidaknya setelah 2 minggu tidak bertemu, sekarang aku bisa berada melihatnya lagi, meski yang benar-benar bisa kupandangi dari tadi hanya kaki panjangnya.

“Ehm.. “, Touya mendeham pelan. Tak lama ia memegangi tengkuknya. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu padaku. Hanya saja, perasaanku merasa tambah tidak enak melihat gerak geriknya itu.

“Aku tidak akan membuatmu takut lagi. Aku akan melepaskanmu..”, ucap Touya tiba-tiba.

“Huh?”, sahutku bingung dan refleks menatap Touya. Sedetik kemudian Touya benar-benar mengatakan sesuatu hal yang membuatku tidak ingin mendengarnya.

“Aku sudah memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai guru lesmu.”

♥☺♥

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s